Tanggapi Ancaman Trump, Presiden Kuba Siap Bela Kedaulatan Negaranya
POROS PERLAWANAN – Pada hari Minggu 11 Januari, Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel mengatakan, Kuba adalah “negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat, dan tidak ada yang dapat mendikte Havana apa yang harus dilakukannya.” Dia menekankan bahwa negaranya tidak menyerang negara lain, melainkan telah menghadapi agresi dari AS selama 66 tahun.
Diberitakan al-Mayadeen, Díaz-Canel mengatakan Kuba “tidak mengancam, tetapi siap.” Ia menegaskan kesiapan negara tersebut untuk mempertahankan Tanah Air “hingga tetes darah terakhir.” Statemen ini dirilisnya untuk merespons ancaman yang diumbar Presiden AS, Donald Trump.
“Mereka yang menuding Kuba tidak memiliki moral sama sekali dalam hal apa pun. Mereka-lah yang mengubah segalanya, bahkan hidup manusia, menjadi bisnis.”
“Serangan histeris yang dihadapi Kuba saat ini berasal dari kemarahan sebagian orang atas keputusan berdaulat rakyat ini untuk memilih model politik mereka.”
Mengenai situasi ekonomi, Díaz-Canel mengatakan bahwa “mereka yang menyalahkan revolusi atas kesulitan ekonomi parah yang kita alami, seharusnya malu atas kebungkaman mereka.” Dia menilai bahwa mereka tahu dan mengakui kesulitan-kesulitan ini adalah hasil dari tindakan paksa yang ketat yang diberlakukan oleh AS terhadap Kuba selama lebih dari enam dekade, dengan risiko eskalasi lebih lanjut pada periode saat ini.
Pada Minggu pagi, Trump mengumumkan bahwa Kuba “tidak akan lagi menerima minyak atau dana dari Venezuela.” Dia pun mendesak Havana untuk “mencapai kesepakatan sebelum terlambat.”
Dalam postingan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa Kuba telah bergantung pada pasokan minyak dan dana dalam jumlah besar dari Venezuela selama bertahun-tahun. Ia mengancam bahwa pasokan tersebut akan dihentikan sepenuhnya. Sembari menekankan perlunya mencapai kesepakatan sesegera mungkin.
Dalam pidatonya di depan Majelis Nasional pada akhir Desember lalu, Diaz-Canel menekankan persetujuannya atas Rencana Ekonomi, Anggaran Negara, dan Undang-Undang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi.
Dalam pidatonya, Diaz-Canel mengakui krisis kompleks yang dihadapi Kuba, yang diperparah oleh blokade AS dan konteks internasional yang tidak stabil yang mengancam multilateralisme, hukum internasional, dan perdamaian global.
Dia menyoroti agresi ekonomi yang dihadapi Kuba, termasuk eskalasi blokade, tudingan kepada Hava sebagai “sponsor terorisme,” dan gangguan terhadap perdagangan internasional dan transaksi keuangan.
Dia mencatat bahwa tahun 2025 menghadirkan tantangan signifikan. Namun menekankan dukungan internasional yang semakin besar terhadap penolakan embargo dan inklusi Kuba dalam kelompok BRICS.
Diaz-Canel mengkritik doktrin “damai melalui kekuatan” yang diusung AS. Menurutnya, doktrin tersebut bertujuan untuk memaksakan dominasi imperialis, menguasai sumber daya alam, dan mengancam Venezuela melalui tindakan perang dan pembajakan laut.
Menegaskan ketahanan Kuba, Diaz-Canel mengatakan bahwa negara ini dipandu oleh tiga prinsip: persatuan, kelanjutan, dan perlawanan kreatif. Ia menekankan pentingnya disiplin, inovasi, dan partisipasi aktif masyarakat di semua sektor untuk menghadapi krisis yang sedang berlangsung.
