Wawancara Menlu Iran dengan al-Jazeera Bagian Pertama: Kerusuhan Terbaru adalah ‘Hari ke-13’ dari Perang 12 Hari Silam
POROS PERLAWANAN – Diberitakan Tasnim, Menlu Iran, Abbas Araghchi diwawancarai al-Jazeera terkait kronologi dan perkembangan kerusuhan di Negeri Mullah. Berikut ini adalah teks wawancara tersebut:
Araghchi: Demonstrasi dan unjuk rasa di Iran bukanlah hal yang tidak biasa. Dalam pemerintahan yang berlandaskan demokrasi, hak untuk berunjuk rasa secara damai dilindungi. Konstitusi Iran juga secara eksplisit merujuk pada hak ini, sehingga penyampaian pandangan, keluhan, dan protes masyarakat melalui demonstrasi dan pertemuan berada dalam kerangka prinsip-prinsip yang diterima. Namun, apa yang kami hadapi kali ini benar-benar berbeda. Menurut pendapat saya, protes-protes ini dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya dapat dibagi menjadi dua tahap: Tahap pertama berlangsung dari 28 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, ketika demonstrasi sepenuhnya damai dan bertujuan untuk mengekspresikan keluhan dan protes. Dalam beberapa kasus, demonstrasi ini disertai dengan tingkat kekerasan tertentu, yang merupakan hal yang wajar, dan Pemerintah menangani protes-protes ini secara logis.
Presiden mengadakan dialog dengan anggota Kamar Dagang, pedagang, dan aktivis ekonomi. Dia mendengarkan pandangan dan ide mereka, serta berusaha menyelesaikan masalah mereka. Dari dialog-dialog ini, beberapa usulan dan rencana ekonomi diajukan. Selain itu, perwakilan pedagang, aktivis ekonomi, dan pekerja perdagangan diundang ke pertemuan dengan Pemerintah Iran dan terlibat dalam pembicaraan dengan mereka. Sebuah jalur positif sedang ditempuh, meskipun disertai dengan beberapa kekerasan. Polisi dan pasukan keamanan Iran tidak bersenjata. Mereka hadir di demonstrasi untuk memastikan tingkat kekerasan tidak melebihi batas normal. Selama periode ini, tidak ada korban jiwa, hanya beberapa luka-luka.
Dari tanggal 8 hingga 10 Januari, terjadi perkembangan yang sangat signifikan: masuknya unsur-unsur teroris ke kancah demo. Apa yang saya sampaikan didasarkan pada dokumen dan bukti. Beberapa di antaranya telah disebutkan dan diungkapkan, dan kami akan segera mengumumkan sisanya. Mereka adalah sel-sel teroris yang terorganisir dan terlatih, yang memasuki kerumunan demonstran dengan senjata. Tiba-tiba, kami menemukan individu-individu di antara demonstran yang membawa senjata dan menembaki polisi serta pasukan penjaga ketertiban. Yang lebih penting, dan bahkan lebih aneh, individu-individu ini juga menembaki demonstran sendiri, berusaha meningkatkan jumlah korban tewas.
Ini adalah fenomena aneh: anasir yang masuk ke demonstrasi dengan tujuan meningkatkan jumlah korban. Mengapa mereka memiliki niat seperti itu? Saya percaya hal itu disebabkan oleh pernyataan Presiden AS, yang mengatakan,’Jika Iran menembak para demonstran, kami akan campur tangan.’ Kami tidak menembak para demonstran, tetapi mereka memiliki rencana jahat, dan saya yakin mereka dipimpin dari luar negeri. Rencana jahat ini dirancang di luar negeri dan dieksekusi oleh agen-agen mereka di dalam negeri. Mereka berusaha memaksa Presiden AS untuk campur tangan dengan meningkatkan jumlah korban. Oleh karena itu, tujuan mereka jelas, dan mereka mulai menembak polisi dan pasukan keamanan, bahkan elemen teroris menembaki para demonstran, meninggalkan sejumlah besar korban tewas dalam insiden-insiden tersebut. Sayangnya, sejumlah korban lain tewas akibat lemparan batu dan tongkat.
Setelah itu, terjadi perkembangan lain: penyebaran teror. Hal ini sangat aneh, dan kami hanya pernah melihat hal semacam itu di Suriah dengan ISIS dan kelompok sejenis. Mereka membakar beberapa orang hidup-hidup, anasir teroris membakar dan memenggal beberapa petugas polisi hidup-hidup. Perilaku ini sama sekali tidak sesuai dengan budaya Iran. Mereka juga membakar masjid. Tidak mungkin bagi seorang Iran untuk membakar masjid, karena budaya kami tidak membenarkan tindakan semacam itu. Teroris juga menembak orang-orang yang terluka dan membakar tempat-tempat umum serta properti pribadi warga.
Presenter: Beberapa orang mengkritik respons keamanan Iran, dengan mengatakan,’Jika Iran mengakui protes dan hak warga negaranya untuk berdemonstrasi, mengapa internet dan komunikasi diputus? Apakah ini dapat dibenarkan?’
Araghchi: Internet diputus sejak hari pertama operasi teroris dimulai. Jaringan internet diputus saat operasi teroris dimulai, bukan sebelum itu. Kami secara resmi mengakui protes, dan Pemerintah tengah berdialog dengan para pemrotes. Perwakilan mereka diundang dan Presiden Iran bertemu dengan mereka secara langsung. Namun, pemutusan internet dimulai saat kami dihadapkan pada operasi teroris. Kami menyadari bahwa perintah datang dari luar negeri. Beberapa percakapan telah direkam. Kami memiliki rekaman audio orang-orang dari luar negeri yang menginstruksikan agen teroris untuk menembak pasukan polisi, dan jika tidak ada polisi, untuk menembak para demonstran. Niat mereka adalah untuk meningkatkan pembunuhan, dan ini telah melampaui protes biasa.
Menurut pandangan kami, tanggal 8 Januari merupakan hari ke-13 dari perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap kami. Perang terakhir berlangsung selama 12 hari, dan tanggal 8 Januari menandai hari ke-13 dari perang tersebut. Apa yang gagal dicapai musuh dalam perang itu, mereka mencoba mencapainya di sini dengan cara lain; dengan menciptakan ketegangan di dalam masyarakat Iran. Oleh karena itu, pasukan keamanan kami terpaksa campur tangan dan memutuskan untuk memotong akses internet. Untuk alasan ini, komunikasi kelompok-kelompok teroris tersebut harus diputus dan koordinasi mereka dicegah. Hal ini dilakukan dengan pertolongan Allah. Setelah tiga hari, situasi berhasil dikendalikan dan elemen utama sel-sel teroris tersebut ditangkap. Mereka memberikan pengakuan, termasuk jumlah uang yang mereka terima. Misalnya, jumlah tertentu untuk serangan terhadap kantor polisi, sejumlah uang untuk membakar kendaraan dan sejumlah lain untuk tindakan lain. Semua pengakuan ini jelas dan berada di tangan kami. Berdasarkan hal ini, tanggal 8 Januari harus dianggap sebagai kelanjutan dari Perang 12 Hari tersebut.
Dari tanggal 10 Januari hingga hari ini, situasi telah terkendali dan, syukur kepada Allah, negara kini tenang. Tentu saja, Pemerintah bertekad untuk sepenuhnya menanggapi tuntutan rakyat dan para demonstran. Namun, kami tidak akan mengabaikan hak-hak mereka yang diserang oleh agen-agen yang didukung asing. Kami tidak akan mundur dalam hal ini, baik dalam hal darah para syuhada maupun hak-hak rakyat kami. (Bersambung)
