Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Kerusuhan Terbaru Iran Disebut Lanjutan Perang 12 Hari Lawan AS-Zionis

POROS PERLAWANAN — Perkembangan keamanan terbaru menunjukkan bahwa kerusuhan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir merupakan kelanjutan langsung dari Perang 12 Hari antara Iran dan Amerika Serikat bersama Rezim Zionis. Perang tersebut berakhir dengan kegagalan pihak lawan menembus daya tangkal Iran di medan militer, sehingga strategi konfrontasi dialihkan ke ruang sipil dan sosial.

Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa 20 Januari, segera setelah gencatan senjata, pusat-pusat perencanaan strategis di Washington dan Tel Aviv mengubah pendekatan dari konfrontasi bersenjata menjadi operasi berbasis gangguan internal. Peralihan ini dinilai sebagai upaya menutup kegagalan militer sekaligus memulihkan gengsi politik yang terkikis selama perang.

Sejumlah media Zionis juga mengakui rapuhnya klaim kemenangan dalam Perang 12 Hari tersebut. Dalam artikel yang terbit beberapa bulan setelah perang berakhir, disebutkan bahwa Iran justru tengah memulihkan dan memperkuat kemampuan misil serta program nuklirnya. Laporan itu menegaskan bahwa Iran mampu mempertahankan intensitas serangan hingga hari terakhir perang, sementara upaya Amerika Serikat dan Israel untuk menggoyahkan sistem politik Iran berujung kegagalan.

Berdasarkan analisis tersebut, situasi saat ini dipandang sebagai kelanjutan dari konflik yang sama, yang disebut sebagai “Hari Ketiga Belas”, namun berlangsung dalam bentuk berbeda. Setelah kalah di medan keras, pihak lawan memindahkan konflik ke ranah lunak dan semi-lunak dengan sasaran utama stabilitas internal serta ketahanan psikologis masyarakat.

Dalam fase baru ini, kerusuhan dinilai sebagai bagian dari skema yang lebih luas untuk menciptakan distorsi persepsi publik dan melemahkan dukungan rakyat terhadap kekuatan pertahanan nasional Iran. Pola perang pun berubah: bukan lagi mengandalkan serangan militer langsung, melainkan propaganda, manipulasi informasi, dan pemanfaatan aktor-aktor bayaran.

Laporan tersebut juga menyoroti kemiripan pola antara serangan militer selama Perang 12 Hari dan aksi sabotase serta gangguan keamanan belakangan ini. Jika sebelumnya sasaran utama adalah infrastruktur fisik, kini fokus diarahkan pada infrastruktur mental dan psikologis masyarakat dengan tujuan melumpuhkan kehendak nasional melalui konflik internal yang berlarut-larut.

Para analis menilai strategi ini muncul dari kesadaran pihak lawan bahwa Iran pascaperang 1404 H (2025 M) tampil sebagai kekuatan dominan di Kawasan. Dalam kondisi tersebut, opsi yang tersisa bagi pihak lawan adalah mendorong konflik internal yang bersifat melelahkan dan berkepanjangan.

Konsep “Hari Ketiga Belas” dalam laporan ini tidak dimaknai sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai sebuah doktrin. Doktrin ini berangkat dari asumsi bahwa kegagalan di medan tempur harus segera diimbangi dengan pembukaan front baru di dalam wilayah lawan. Situasi yang terjadi saat ini dipandang sebagai upaya mempertahankan konflik yang telah berakhir di medan militer.

Pada tahap ini, jejaring media sosial, operasi informasi terkoordinasi, serta kelompok-kelompok terlatih yang digerakkan melalui jaringan intelijen asing disebut menjadi instrumen utama. Tujuannya adalah mengubah kemenangan strategis Iran menjadi persoalan keamanan domestik.

Karena itu, laporan tersebut menegaskan bahwa kerusuhan terbaru tidak dapat dipahami sebagai peristiwa terpisah, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Perang 12 Hari. Kegagalan pihak lawan dalam fase ini dinilai akan menjadi pukulan penentu bagi proyek konfrontasi yang selama ini dijalankan Rezim Zionis.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *