Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Respons Trump kepada para Pemrotes AS: Mereka Pengacau yang harus Dipenjara atau Dideportasi

Penjara dan Depoertasi: Respons Trump kepada para Pemrotes AS

POROS PERLAWANAN – Di saat statistik di Iran melaporkan penghancuran lebih dari 300 masjid oleh para perusuh yang disebut Trump sebagai “rakyat,” Presiden AS menggunakan istilah “pengacau profesional’ dengan membagikan ulang foto-foto protes yang dilakukan beberapa warga AS di sebuah gereja.

Dilaporkan Fars, standar di Barat dipenuhi dengan kontradiksi, terutama ketika Iran terlibat. Trump, Presiden yang menurut The Guardian “tidak terikat oleh hukum apa pun”, berulang kali membela para perusuh dalam kerusuhan terbaru di Iran. Tetapi ketika menyangkut protes oleh rakyat AS, ia mengubah retorikanya secara drastis.

Perbandingan foto-foto beberapa demonstran AS yang tidak melakukan tindakan kekerasan dalam sebuah seremoni keagamaan di sebuah gereja di Minnesota, dengan gambar serangan brutal oleh sel-sel teroris yang terkoordinasi terhadap masjid, makam suci, dan tempat-tempat umum serta pribadi lainnya di Iran, secara jelas menggambarkan kontradiksi di AS dan Barat.

Raja yang Lebih Memilih Militer

Setelah kerusuhan meletus di Iran, Presiden AS mengancam Negeri Mullah dengan serangan militer. Dalam pesannya, ia menulis,“Jika mereka mulai membunuh demonstran seperti yang mereka lakukan di masa lalu, saya pikir AS akan menghantam mereka dengan sangat keras.” Ia mengulangi ancamannya beberapa kali lagi.

Statemen ini dilontarkan Trump meskipun dia sendiri, selama dua periode kepresidenannya, telah mengerahkan pasukan militer untuk menghadapi para demonstran AS.

Selama demonstrasi tahun lalu, yang dipicu oleh kebijakan imigrasi Pemerintah AS, Trump dengan cepat mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota seperti Los Angeles, Washington, Chicago, dan Portland. Akhirnya, ketika demonstrasi meningkat menjadi demonstrasi “No to The King” yang diikuti oleh 7 juta orang, melalui sebuah klip yang dibuat dengan AI, dia “membombardir demonstran dengan kotoran.”

Selama konfrontasi Militer dengan demonstran AS, terjadi adegan-adegan kekerasan yang dikecam oleh masyarakat dan pejabat negara-negara yang terlibat. Namun, respons Pemerintah AS adalah meningkatkan kekerasan, hingga seorang wanita muda tewas ditembak oleh petugas imigrasi di Minneapolis, yang memicu gelombang protes baru.

Dipenjara karena Protes dengan Suara Lantang

Sementara protes antipemerintah di AS terus menjadi sorotan media setelah pembunuhan seorang wanita berusia 37 tahun oleh petugas polisi di Minneapolis, Trump menyebut para demonstran sebagai “pengacau”, bukan karena perusakan besar-besaran terhadap properti publik atau pembunuhan orang tak bersalah, tetapi karena menghadiri seremoni di gereja dan melakukan protes dengan suara lantang!

Dalam salah satu pernyataan terbarunya, Presiden AS telah merilis video sebuah gereja di Minnesota untuk mengajukan apa yang dia harapkan sebagai “bukti yang meyakinkan” demi menyebut para demonstran sebagai “pengacau.”

“Baru saja melihat rekaman serangan terhadap gereja di Minnesota oleh para perusuh dan penjarah. Mereka adalah profesional! Tidak ada yang melakukannya seperti mereka. Mereka dilatih untuk berteriak, bernyanyi, dan berteriak seperti orang gila dengan cara tertentu,” cuitnya.

Dalam rekaman yang dirilis, beberapa demonstran masuk ke ibadah gereja dan, setelah berteriak keras, pergi tanpa ada konfrontasi. Namun, bahkan teriakan protes ini telah membuat Presiden AS habis kesabaran.

Para Teroris ISIS yang Tak Terlihat

Ketika topik tentang beberapa warga AS yang berdemonstrasi dengan keras di sebuah gereja dibahas, penting untuk melihat statistik serangan para perusuh terhadap situs-situs suci di Iran.

Menurut data terbaru yang dirilis secara resmi oleh Kementerian Dalam Negeri Iran, lebih dari 300 masjid hancur selama kerusuhan, dan ribuan salinan Alquran dan Nahj al-Balaghah dibakar oleh para teroris.

Selain itu, penodaan makam dan situs suci, seperti Makam Sabz-e Quba di Dezful dan Imamzadeh Hassan di Tehran, serta serangan terhadap lebih dari 90 hauzah (seminari) di seluruh negeri, merupakan bagian lain dari tindakan barbar para teroris.

Dalam kerusuhan di Iran, yang menurut pengakuan pensiunan Pentagon, Lawrence Wilkerson, didanai oleh “mesin pembunuh Trump dan dirampas oleh Mossad bekerja sama dengan CIA dan MI6,” kita menyaksikan tindakan bercorak ISIS yang tampaknya tidak dimaksudkan untuk dilihat oleh para Pemerintah Barat.

Perilaku terbaru Presiden AS, dengan mengabaikan semua aksi terorisme terarah di Iran, mengungkapkan wajah lain dari mereka yang mengeklaim sebagai pendukung hak asasi manusia di Barat. Para pendukung yang tidak dapat menolerir bahkan satu gerakan protes pun di negara mereka sendiri. Menanggapi protes warga di sebuah gereja di Minnesota, Trump menulis:“Mereka adalah pengacau yang harus dipenjara atau dideportasi.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *