Mantan Tawanan Israel: Saya Diberi Senjata oleh Hamas!
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Radio Militer Zionis pada Rabu malam 28 Januari, seorang mantan tawanan Israel, Eitan Mor mengungkapkan momen-momen mengerikan yang dialaminya selama pembantaian yang dilakukan Militer Israel di Jalur Gaza.
Fars memberitakan, serdadu Israel ini bekerja sebagai petugas keamanan di Festival Musik Nova pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap pangkalan militer dan wilayah di sekitar Jalur Gaza.
“Saya sedang duduk di sebuah apartemen bersama pejuang Hamas ketika jet tempur F-16 membom gedung di samping kami. Gedung bertingkat itu hancur total. Gedung tempat kami berada mulai runtuh. Semua orang berteriak. Rasanya seperti gempa bumi, momen yang mengerikan,” tutur Mor.
Mor melanjutkan bahwa pada saat itu, salah satu pejuang Hamas memberinya senjata. Ketika pembawa acara bertanya, “Apa maksudmu? Dia memberimu senjatanya?”, Mor menjawab, “Dia memberiku senjata dan berkata, ‘Ikuti aku dari belakang.’”
Pembawa acara bertanya dengan terkejut, “Kamu bisa menembaknya.” Tetapi Mor menjawab, “Siapa yang akan menembaknya? Apa yang harus aku lakukan setelah itu?” Dia menyiratkan bahwa kelangsungan hidupnya saat itu terkait dengan nasib pejuang Hamas tersebut.
Mor menambahkan, ia lalu dievakuasi ke gedung lain dengan bantuan para pejuang Hamas. “Saat aku menjadi tawanan, ada seorang pejuang Hamas di depanku dan dua di belakangku, ketika tiba-tiba sebuah gedung di jalan samping kami dibom. Kami semua berlari bersama untuk menyelamatkan diri dari serangan udara Israel.”
“Kami berlari. Sebenarnya, seluruh bangunan runtuh di atas kepala kami, dan saya berlari mengejarnya [pejuang Hamas] untuk menemukannya. Gelap gulita, dan pada saat itu saya merasa Militer Israel tidak mengetahui keberadaan saya. Intelijen Israel tidak tahu di mana saya berada.”
“Usai saya dibebaskan, perwira intelijen Israel yang bertanggung jawab atas saya mengatakan kepada saya, ‘Eitan, kami tidak memiliki informasi tentangmu.’” Mor sendiri tidak menyebutkan waktu atau lokasi tepat saat insiden itu terjadi di Gaza.
Kejahatan perang Israel yang didukung AS di Gaza, yang berlangsung selama dua tahun, telah menewaskan lebih dari 71.000 syahid Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang. Sebagian besar di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak.
Tiap hari Israel melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2024, dan hingga kini telah menewaskan 488 warga Palestina lainnya. Israel juga mencegah masuknya makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan bahan bangunan perlindungan yang telah disepakati ke Gaza.
Israel telah mengepung Jalur Gaza selama lebih dari 18 tahun. Sekitar 2,4 juta warga Palestina tinggal di sana, 1,5 juta di antaranya telah mengungsi akibat perang genosida, dan semua mereka menghadapi kondisi yang mengerikan.
