Profesor Hongda Fan: AS-Israel Inginkan Iran yang Tunduk, Campur Tangan Asing Bisa Guncang Aliansi Kawasan
POROS PERLAWANAN — Guru Besar Kajian Timur Tengah asal Tiongkok, Profesor Hongda Fan menilai Amerika Serikat dan Israel menginginkan Iran berada pada posisi tunduk dan tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi kepentingan Israel. Menurutnya, dukungan politik Washington terhadap gelombang protes di Iran serta ancaman militer yang menyertainya lebih terkait agenda geopolitik ketimbang pembelaan kebebasan sipil.
Pandangan tersebut disampaikan Fan dalam wawancara dengan Tehran Times yang dipublikasikan pada Sabtu 31 Januari. Fan saat ini menjabat Direktur Pusat Tiongkok–Timur Tengah di Universitas Shaoxing, Tiongkok, serta dikenal sebagai analis senior dalam geopolitik Asia Barat, hubungan luar negeri Iran, dan persaingan kekuatan besar di Kawasan.
Dalam wawancara itu, Fan menyinggung kombinasi tekanan ekonomi, retorika politik, serta operasi pengaruh yang menurutnya dapat memperparah ketegangan internal Iran. Fan juga memperingatkan bahwa campur tangan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengubah pola aliansi regional dan mendorong eskalasi persaingan keamanan di Timur Tengah.
Menanggapi pertanyaan tentang dukungan terbuka Presiden AS, Donald Trump terhadap demonstran Iran disertai ancaman tindakan militer, Fan menilai motif utamanya bukan kebebasan sipil, atau sedikit sekali kaitannya dengan kebebasan sipil.
“Memaksa Teheran untuk tunduk, setelah Perang 12 Hari tahun lalu, telah menjadi tujuan fundamental AS dan Israel terkait Iran,” ujar Fan. “Dukungan Trump terhadap protes Iran dan ancaman militernya juga melayani tujuan ini. Ini sedikit sekali kaitannya dengan mendukung kebebasan sipil. AS membutuhkan Iran yang tunduk dan tidak menimbulkan ancaman bagi Israel.”
Sanksi dan Retorika, Memperbesar Konflik Internal
Fan juga menilai sanksi ekonomi serta tekanan politik AS dapat berfungsi sebagai instrumen strategis untuk menambah tekanan domestik di Iran.
Menurut Fan, ketidakpuasan di Iran memang berkembang, namun tindakan Washington berpotensi memperburuk situasi. “Di tengah keresahan internal ini, tindakan AS dapat memperburuk konflik internal Iran. Baik sanksi maupun retorika publik dapat mencapai hal ini,” ujarnya.
Fan menambahkan bahwa ruang intervensi eksternal terbuka lebar karena berbagai problem internal yang belum terselesaikan. “Teheran telah memberikan ruang intervensi yang terlalu besar bagi kekuatan eksternal,” katanya. Fan juga menyebut perilaku AS sebagai sikap yang arogan.
Israel Mengambil Posisi Lebih Keras
Dalam wawancara tersebut, Fan menilai Israel memiliki kecenderungan lebih keras dibanding Washington dalam sikap terhadap Republik Islam.
“Israel mengambil sikap yang lebih keras terhadap Republik Islam, berharap dapat melemahkan atau bahkan menggulingkannya,” kata Fan. Menurutnya, setiap gejolak internal di Iran menjadi peluang bagi Israel untuk memperkuat tekanan politik.
Fan bahkan menyebut pertarungan Iran vs Israel sebagai konflik paling tajam di Timur Tengah. “Sampai saat ini, saya percaya konfrontasi Iran-Israel adalah konflik paling tajam di Timur Tengah,” ujarnya.
Kritik pada Framing Media Barat
Fan menilai pemberitaan media Barat terkait protes Iran cenderung selektif dan tidak menempatkan keterlibatan eksternal dalam porsi yang memadai. Pola ini, menurutnya, juga terjadi dalam pemberitaan negara berkembang lain yang menghadapi tekanan dari luar.
“Ini praktik umum dalam pelaporan media Barat tentang negara-negara berkembang,” ujarnya. Fan menambahkan bahwa liputan sebagian media Amerika dan Israel beririsan dengan kepentingan nasional mereka.
Fan turut menyinggung tingginya jumlah korban jiwa sebagai faktor yang membuat media menyoroti protes Iran dengan cara tertentu, meski aspek keterlibatan eksternal kerap tak mendapat sorotan yang seimbang.
Dampak Kawasan: Aliansi dan Persaingan Keamanan Bisa Berubah
Fan menilai keresahan di Iran tidak bisa dipisahkan dari dampak keamanan di Kawasan. Menurutnya, bukan hanya Iran yang memiliki kekhawatiran keamanan, melainkan juga Israel serta negara-negara lain di Asia Barat.
“Akar penyebab keresahan di Iran tentu terletak di internal, tetapi campur tangan eksternal tidak bisa diabaikan,” katanya. Fan menambahkan bahwa negara-negara Teluk Persia dan kawasan sekitarnya tidak bisa menutup mata terhadap risiko efek domino.
Fan menyimpulkan restrukturisasi geopolitik Timur Tengah masih berlangsung dan jauh dari selesai.
Bisa jadi Bumerang
Menutup wawancara, Fan menyebut campur tangan asing berpotensi menjadi bumerang apabila memicu persatuan publik Iran. Namun hasil tersebut sangat bergantung pada kebijakan Teheran.
“Jika para pembuat kebijakan Teheran ingin menginspirasi persatuan nasional melawan ancaman eksternal, mereka harus memberikan harapan kepada rakyat Iran untuk masa depan negara mereka,” katanya.
Fan menegaskan percaya pada patriotisme rakyat Iran, namun berharap kebijakan Pemerintah mampu memberi prospek dan kepastian yang lebih kuat.
