Situs Israel: Iran Manfaatkan Ancaman Balasan untuk Tekan Israel dan ‘Permalukan’ Trump
POROS PERLAWANAN — Di tengah ancaman timbal balik antara Washington dan Teheran, warga Israel disebut hidup dalam ketidakpastian dengan konsekuensi psikologis besar. Dalam analisis yang dimuat situs Inyan Merkazi (news-israel), Iran dinilai memanfaatkan kondisi ini sepenuhnya lewat perang psikologis keras yang menargetkan warga Israel pada titik paling sensitif.
Analisis tersebut ditulis Jurnalis Israel sekaligus pemilik situs Inyan Merkazi, Rami Yitzhar, dalam artikel bertanggal 30 Januari 2026. Tulisan itu membahas ancaman balasan Amerika Serikat dan Iran serta indikasi pergerakan menuju kondisi darurat. Dalam penilaian penulis, Iran menempatkan Israel sebagai pusat setiap respons militer yang mungkin terjadi, sehingga menambah tekanan dan memperbesar rasa tidak pasti di Israel.
Dalam artikelnya, jurnalis Israel itu menggambarkan akhir pekan di Israel kembali diselimuti rasa takut. Ketidakpastian disebut memicu kegelisahan masyarakat. Pada saat yang sama, Teheran dinilai meningkatkan ketegangan dengan mengintensifkan ancaman langsung terhadap Israel, bersamaan dengan penolakan untuk bernegosiasi dengan Presiden AS, Donald Trump berdasarkan syarat-syarat Amerika. Teheran, menurut analisis itu, menyebut syarat tersebut “lebih buruk daripada kekalahan apa pun di medan perang”.
Trump Dinilai Tertekan, Ancaman Dianggap Tidak Lagi Efektif
Tulisan itu menyebut Trump berada di bawah tekanan besar dari negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Qatar. Dukungan publik dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan turut disinggung.
Menurut pemilik situs Merkazi, Trump tidak berada dalam posisi mengeluarkan perintah eksekutif baru. Netanyahu juga disebut tidak tertarik pada babak konfrontasi baru yang berpotensi memudarkan dan melemahkan rasa kemenangan setelah Perang 12 Hari.
Meski jajak pendapat menunjukkan 70 persen warga Amerika menentang serangan AS terhadap Iran, Trump disebut berupaya mencari cara membenarkan ketidakaktifannya. Kesan yang beredar di kalangan Badan Intelijen Barat, tulis penulis, menunjukkan serangan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Ancaman dinilai tidak lagi efektif menekan Iran, sementara waktu dianggap berpihak kepada Teheran.
Penulis juga menyoroti pernyataan Trump pada malam hari yang kembali menawarkan negosiasi disertai ancaman jika tidak tercapai. Namun ancaman kali ini dinilai tidak menimbulkan efek, kecuali memperbesar kekhawatiran di Israel.
Ancaman Iran: Israel Berada di “Jantung Respons”
Dalam bagian khusus, analisis itu menekankan pesan utama Teheran: setiap serangan Amerika terhadap Iran akan dibalas dengan rentetan rudal cepat dan mematikan ke arah Israel sejak gelombang pertama konfrontasi.
Pernyataan tersebut disebut disampaikan lewat media resmi dan para pemimpin keamanan di Teheran. Fokusnya disebut jelas, Israel tidak lagi diperlakukan sebagai pihak sekunder atau sekadar pihak yang berkolaborasi, melainkan target strategis utama dalam kerangka membangun penangkal baru yang sedang diupayakan Iran.
Dari sudut pandang Teheran, ancaman langsung terhadap Israel juga dinilai bertujuan menciptakan keretakan di front Barat serta meningkatkan tekanan politik dan publik secara bersamaan di Yerusalem dan Washington.
Tekanan Arab: Mencegah Perang Regional
Dalam artikel itu disebut ada upaya sejumlah negara Arab untuk mencegah eskalasi. Arab Saudi dan Qatar digambarkan memberi tekanan kuat kepada Gedung Putih karena khawatir konflik memicu ketidakstabilan keamanan dan ekonomi Kawasan, termasuk gangguan jalur energi, kenaikan harga minyak, serta guncangan terhadap rezim yang menghadapi ketegangan internal.
Turki di bawah Erdogan disebut memiliki kepentingan lain: menampilkan Trump sebagai pemimpin yang menyerah pada tekanan militer dan siap memicu konflik. Penilaian tersebut disertai gambaran bahwa Erdogan memanfaatkan isu itu untuk agenda politik dan regional, dengan serangan verbal terhadap Washington dan Yerusalem.
Washington: Militer Siap, tetapi Tanpa Pemicu
Menurut analisis tersebut, Militer AS telah siap, pasukan dikerahkan, dan rencana disusun. Namun Militer disebut tidak tergesa mendesak Trump mengambil keputusan. Pesan yang dipertukarkan digambarkan mengarah pada kehati-hatian, antisipasi, serta upaya memaksimalkan jalur diplomatik.
Kekhawatiran utama Pentagon disebut bukan hanya respons Iran, melainkan juga risiko kehilangan kendali atas eskalasi. Skenario yang dikhawatirkan adalah eskalasi terbatas berubah menjadi konflik multi-front yang melibatkan Hizbullah, milisi regional, serta serangan langsung ke wilayah Israel.
Israel: Di antara Kepercayaan Diri dan Keraguan
Di Yerusalem, situasi disebut lebih kompleks daripada yang terlihat. Meski Israel diklaim siap menghadapi semua skenario, tidak ada antusiasme kuat untuk langkah baru yang dapat merusak kemajuan setelah pertempuran sebelumnya.
Aparat keamanan dan Militer, tulis penulis, memahami bahwa konfrontasi lanjutan, meski dipicu oleh inisiatif Amerika, dapat berakhir dengan korban sipil besar serta berlangsung tanpa dukungan internasional yang luas.
Kesimpulan: Ancaman dan Persiapan, Tanpa Negosiasi dan Tanpa Perintah Serang
Penulis menyimpulkan belum ada negosiasi aktif dan belum ada perintah serangan. Situasi saat ini disebut hanya berisi ancaman, tekanan, serta persiapan. Masyarakat Israel digambarkan hidup di antara berita utama yang dramatis dan realitas yang belum meledak.
Trump disebut sedang mencari jalan keluar. Iran dinilai menolak panik. Negara-negara Arab disebut menahan laju konflik. Israel kembali ditempatkan di pusat papan catur, meski bukan pihak yang menggerakkan bidak.
Pada bagian akhir, artikel tersebut menyarankan warga Israel tetap tenang semampunya, karena ketegangan akibat ketidakpastian dinilai membawa konsekuensi psikologis besar. Iran, menurut analisis itu, memanfaatkan kondisi tersebut sepenuhnya dalam perang psikologis keras yang menyasar titik paling sensitif warga Israel.
