Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mantan Perwira MI6: AS-Israel Kalah oleh Kewaspadaan Rakyat Iran

POROS PERLAWANAN — Operasi rahasia yang disebut dirancang mengguncang Iran justru berakhir kacau. Jaringan komunikasi kelompok lapangan lumpuh, sementara masyarakat Iran dinilai cepat membaca pola serangan.

Mantan diplomat Inggris sekaligus eks perwira Intelijen MI6, Alastair Crook menilai Amerika Serikat dan Israel gagal menggoyang Iran karena respons cepat aparat serta kewaspadaan publik. Crook menyebut pemutusan Starlink menjadi titik balik yang membuat operasi di lapangan kehilangan koordinasi dan kendali.

Analisis tersebut disampaikan Crook dalam wawancara di kanal Dialogue Works bertajuk “Alastair Crooke: The Hidden Signal: How One Answer Could Ignite the Middle East”. Crook menyebut Iran tidak hanya menahan tekanan militer AS-Israel di Timur Tengah, tetapi juga mampu memukul balik lewat kontrol teknologi komunikasi yang kerap menjadi penopang operasi intelijen modern.

Dua Fase Operasi: Sel Rahasia hingga Kelompok Terlatih

Menurut Crook, operasi berlangsung dalam dua tahap.

Fase pertama terjadi pada Juni. Serangan disebut dilakukan mendadak saat Donald Trump mengumumkan rencana negosiasi dengan Iran. Crook menilai momen itu dimanfaatkan sebagai kamuflase, sementara sel-sel kecil masuk ke wilayah Iran.

Kelompok tersebut bergerak terpisah, bukan dalam satu unit besar. Mereka membawa drone bunuh diri dan rudal antitank, dengan sasaran awal merusak radar peringatan dini Iran.

Fase kedua berjalan beberapa hari kemudian. Crook menyebut Israel mendorong Trump menyetujui sekaligus mengatur gencatan senjata setelah menerima serangan balasan yang berat. Sistem pertahanan udara Israel dinilai tidak cukup untuk menahan gelombang serangan rudal.

Pada tahap ini, Crook menyebut keterlibatan unsur yang lebih terorganisasi dan terlatih. Jalur pelatihan dikaitkan ke Albania dan Kurdistan Irak. Crook juga menyinggung elemen dari Organisasi Munafiqin Khalq (MEK) bersama unsur lain yang tidak dirinci.

Pola Serangan Ekstrem: Target Sipil hingga Tempat Ibadah

Crook menilai fase kedua tidak diarahkan untuk perang terbuka. Polanya dirancang untuk memicu kepanikan massal dan mengganggu stabilitas sosial.

Menurut Crook, manual operasionalnya meniru taktik ISIS, yakni kekerasan ekstrem untuk membangun teror psikologis. Target serangan dilaporkan mencakup bank, masjid, fasilitas Pemerintah, hingga warga sipil.

Crook menilai rangkaian itu bertujuan membentuk citra Iran sedang runtuh, dengan kekacauan menyebar dan publik kehilangan rasa aman.

Dalam skenario yang digambarkan Crook, situasi tersebut diharapkan membuka jalan bagi AS masuk lewat operasi militer terbatas untuk membantu kelompok lapangan, lalu menjatuhkan Pemerintah Iran. Iran diproyeksikan bernasib seperti Suriah pascatumbangnya Pemerintahan Assad.

Starlink Diputus, Komunikasi Lapangan Berhenti Total

Crook menyebut rencana tersebut gagal karena Iran merespons cepat. Iran disebut memutus sebagian komunikasi internasional serta mengalihkan akses dari internet global ke jaringan internal.

Crook menekankan pemutusan Starlink sebagai faktor paling menentukan. Jaringan ini dinilai disiapkan menjadi tulang punggung komunikasi kelompok lapangan, mulai dari koordinasi, instruksi real-time, hingga data penargetan satelit.

Ketika Starlink terputus, sel-sel operasi disebut kehilangan arah. Koordinasi terhenti dan penentuan target menjadi kacau.

Situasi itu kemudian membuka jalan bagi pembersihan cepat. Aparat keamanan Iran, Basij, dan IRGC disebut bergerak menangkap sel-sel satu per satu. Sebagian ditahan, sebagian dilaporkan tewas dalam bentrokan.

Publik Iran Dinilai Tidak Mudah Terpancing

Crook menilai kekuatan Iran terletak pada kewaspadaan publik.

Rakyat Iran disebut memiliki pengalaman panjang menghadapi operasi asing, mulai dari kudeta 1953, perang, pembunuhan ilmuwan nuklir, hingga tekanan sanksi. Pengalaman tersebut dinilai membentuk sensitivitas tinggi terhadap pola destabilisasi.

Ketika warga melihat ambulans, masjid, dan fasilitas publik menjadi sasaran, Crook menyebut publik memahami serangan itu tidak wajar dan sulit disebut sebagai aksi spontan masyarakat. Pola tersebut dinilai lebih dekat pada operasi aktor asing terlatih.

Crook juga menyinggung kritik dari sejumlah analis Barat. Di Israel, sebagian analis militer disebut mengkritik penanganan Benyamin Netanyahu. Di Amerika Serikat, Crook mengeklaim ada kalangan intelijen yang mengakui operasi tersebut sebagai kegagalan besar.

Barat Kembali ke Tekanan Ekonomi, Iran Dinilai Menguat

Setelah operasi dinilai gagal, Crook menyebut AS dan sekutunya kembali mengandalkan tekanan ekonomi dan diplomatik.

Namun Crook menilai Iran mempercepat pelepasan ketergantungan terhadap Dolar, terutama lewat perdagangan dengan Tiongkok, Rusia, India, dan Turki tanpa menggunakan Dolar. Iran juga disebut menguatkan sistem pembayaran alternatif.

Di sisi militer, Iran dinilai meningkatkan kemampuan rudal dan drone yang lebih presisi. Crook menyebut kondisi tersebut membuat Israel semakin berhitung jika kembali melakukan serangan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *