Washington Kembali Ancam Dunia: Trump Bidik Mitra Dagang Iran dengan Tarif Hukuman
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Amerika Serikat kembali memperlihatkan wajah aslinya sebagai arsitek perang ekonomi global. Pada Jumat 6 Februari, Presiden AS, Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang membuka jalan bagi penerapan tarif hukuman terhadap negara mana pun yang masih berani menjalin hubungan dagang dengan Republik Islam Iran. Meski belum langsung diberlakukan, kebijakan ini jelas dimaksudkan sebagai alat intimidasi terhadap negara-negara yang menolak tunduk pada diktat Washington.
Melalui perintah tersebut, Pemerintahan AS mengeklaim memiliki kewenangan untuk mengenakan tarif sekunder terhadap barang impor dari negara yang membeli atau memperoleh barang dan jasa dari Iran, baik secara langsung maupun terselubung. Angka 25 persen dicantumkan dalam dokumen sebagai contoh, namun bagi banyak pihak, itu adalah ancaman terbuka terhadap kedaulatan ekonomi negara lain.
Perintah ini memberi peran sentral kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Luar Negeri AS untuk menjadi algojo ekonomi dalam menilai, menuduh, lalu merekomendasikan hukuman tarif. Dengan kata lain, Washington kembali memosisikan dirinya sebagai hakim tunggal perdagangan internasional, tanpa mandat hukum internasional apa pun.
Lebih ironisnya, langkah agresif ini diumumkan bersamaan dengan digelarnya pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran, untuk pertama kalinya setelah lebih dari enam bulan. Fakta ini memperjelas pola lama Amerika yaitu berbicara “diplomasi” di meja perundingan, sambil mencekik ekonomi di lapangan.
Pada hari yang sama, AS juga meluncurkan sanksi tambahan terhadap jaringan perdagangan minyak Iran, termasuk kapal-kapal yang mereka sebut sebagai “armada bayangan”. Tuduhan sepihak ini kembali digunakan untuk membenarkan eskalasi tekanan terhadap Iran dan siapa pun yang berani bekerja sama dengannya.
Bagi POROS PERLAWANAN, kebijakan tarif ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan bagian dari strategi pengepungan total terhadap Iran. Strategi ini telah gagal melemahkan Teheran, namun justru memperlihatkan kepanikan Washington menghadapi ketahanan Iran dan bangkitnya tatanan dunia multipolar.
