Saat Siaran Langsung, Tentara Israel Akui Pembunuhan dan Pelecehan Seksual di Gaza
POROS PERLAWANAN — Dilansir Press TV, sebuah siaran langsung di media sosial membuka tabir gelap yang selama ini berusaha ditutup rapat oleh mesin propaganda. Dalam percakapan daring bersama YouTuber Amerika, Jeff Davidson, seorang tentara Israel secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan dan kekerasan seksual terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Pengakuan itu, yang kini viral, memicu gelombang kemarahan luas di dunia maya.
Dalam siaran langsung yang direkam saat agresi masih berlangsung namun baru tersebar belakangan ini, prajurit tersebut tanpa ragu menyatakan, “Kami tidak hanya membunuh, kami juga memperkosa.” Ucapan itu meluncur dingin, tanpa penyesalan. Ketika ditanya identitas dan posisinya, ia mengaku sebagai bagian dari Militer Israel dan melakukan siaran langsung dari dalam Gaza, wilayah yang selama dua tahun terakhir luluh lantak oleh perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida.
Kamera yang ia arahkan ke sekeliling memperlihatkan hamparan kehancuran. Bangunan rata dengan tanah, jalanan sunyi tanpa kehidupan.
“Kau ingin melihat Gaza? Jangan kaget. Di sini tidak ada rumah. Rata, semuanya rata,” katanya.
Saat Davidson bertanya apakah pasukan Israel yang meratakan kawasan itu, sang tentara menjawab singkat, “Oh ya.”
Percakapan semakin panas ketika prajurit tersebut mencoba membenarkan serangan terhadap anak-anak dengan menunjukkan gambar seorang bocah memegang senjata. Ia mengeklaim menemukan foto itu di rumah yang telah hancur. Davidson menolak logika tersebut, menegaskan bahwa anak-anak yang hidup di bawah serangan militer tidak pernah bisa dijadikan alasan pembenaran untuk dibunuh. Ia mendesak pertanggungjawaban atas kehancuran yang terjadi.
Namun pernyataan paling mengguncang datang di akhir siaran. Dengan nada yang sama sekali tak menunjukkan empati, tentara itu berkata: “Kami telah membunuh wanita dan anak-anak, dan omong-omong, jangan khawatir, kami juga memperkosa mereka.”
Pengakuan vulgar itu menjadi bukti verbal yang menguatkan berbagai laporan tentang kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Palestina.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia menilai video ini sebagai indikasi serius dugaan pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Mereka juga menyoroti bagaimana dukungan politik dan militer dari sekutu Barat telah menciptakan ruang impunitas yang memungkinkan pelanggaran terus berulang tanpa akuntabilitas.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa ratusan jenazah masih ditemukan sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 171.000 lainnya terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur, menyisakan reruntuhan dan trauma kolektif. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai puluhan miliar Dolar.
Pengakuan tentara tersebut bukan sekadar pernyataan individual. Ia menjadi potret mentalitas perang yang tumbuh dalam bayang-bayang pendudukan panjang, sebuah pengingat pahit bahwa di balik angka-angka korban, ada kisah kemanusiaan yang diinjak tanpa ampun.
