National Interest: 31 Pangkalan AS dalam Jangkauan Rudal Iran
POROS PERLAWANAN — Publikasi Amerika, National Interest melaporkan sedikitnya 31 pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Eropa berada dalam jangkauan rudal Iran. Temuan itu menempatkan kemampuan balistik dan drone Teheran sebagai faktor penting dalam kalkulasi militer Washington di Kawasan.
Mengutip laporan National Interest yang dilansir Kayhan pada Selasa 17 Februari, persenjataan rudal Iran dinilai menjadi ancaman serius bagi instalasi militer Amerika. Sistem balistik jarak menengah hingga jauh, ditopang drone tempur dan drone bunuh diri, memperluas jangkauan operasi militer Iran. Dalam laporan tersebut tertulis: “persenjataan rudal Iran adalah mimpi buruk bagi pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah”.
Iran dilaporkan memiliki ribuan rudal balistik serta produksi drone Shahed dalam jumlah besar. Jenis rudal yang disebut mencakup Khorramshahr, Sejjil, Emad, Qadr-110, Fateh-1, Hajj Qassem, dan Khyber Shekan. Jangkauan sistem mencapai sekitar 2.800 kilometer dan mencakup sejumlah fasilitas militer Amerika di Qatar, Kuwait, serta Bahrain.
Pangkalan Al-Udeid di Qatar, Arifjan di Kuwait, dan fasilitas Angkatan Laut Amerika di Bahrain masuk daftar target potensial. Analis keamanan menilai penggunaan drone secara massal memperbesar ancaman. Strategi serangan jenuh menggunakan puluhan drone berbiaya rendah dinilai mampu membebani sistem pertahanan udara.
Mantan Penasihat Pentagon, Douglas McGregor menyebut kemampuan Militer Iran meningkat signifikan. “Posisi Iran saat ini jauh lebih kuat dan kemampuannya jauh lebih mematikan dan berbahaya,” ujarnya.
Analis diplomasi, Avi Posner juga menyoroti faktor strategis Iran, terutama potensi gangguan jalur pelayaran energi. “Eropa sangat khawatir terhadap lonjakan harga minyak dan konsekuensi konflik,” katanya kepada i24.
Surat kabar Inggris, The Telegraph melaporkan Iran menyiapkan strategi bertahap menghadapi kemungkinan serangan Amerika. Skenario mencakup perluasan medan konflik ke luar wilayah nasional serta penargetan pangkalan Amerika menggunakan rudal dan drone. Posisi geografis Iran di Selat Hormuz dinilai menjadi elemen kunci, mengingat jalur tersebut dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia.
Jaringan televisi Prancis, LCI menyoroti pengembangan rudal Khorramshahr-4 sebagai indikator peningkatan kekuatan Militer Iran. “Iran menunjukkan tingkat kekuatan tempur yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memiliki kemampuan membalas”, tulis laporan itu.
Kantor berita Korea Selatan, Yonhap melaporkan kemampuan balasan Iran mencakup ribuan rudal, armada drone, hingga skenario serangan cepat di Selat Hormuz. Jangkauan operasi luas membuat sistem pertahanan Amerika di Kawasan menghadapi tekanan strategis yang lebih kompleks.
Media Israel, Ynet juga menyoroti potensi dampak serangan rudal Iran terhadap Kawasan. Sejumlah analis regional menilai kombinasi kekuatan militer, posisi geografis, serta kontrol jalur energi global menempatkan Iran sebagai aktor penting dalam dinamika keamanan Timur Tengah.
Perkembangan teknologi rudal, drone, dan strategi maritim menunjukkan persaingan militer di Kawasan tidak hanya ditentukan kekuatan senjata. Kontrol wilayah, jalur energi, dan kalkulasi geopolitik global menjadi faktor yang saling terkait dan membentuk arah stabilitas regional.
