Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Defisit Anggaran Israel Berlanjut Hingga Tiga Tahun, Muncul Peringatan Tekanan Fiskal

POROS PERLAWANAN — Defisit anggaran Israel berlanjut untuk tahun ketiga berturut-turut sepanjang 2025. Data Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan tekanan fiskal mulai meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan fondasi ekonomi.

Laporan yang dikutip kantor berita IRNA pada Rabu 18 Februari, merujuk analisis harian ekonomi Israel Calcalist terkait kondisi fiskal terbaru. Defisit anggaran publik tercatat tetap di atas 5 persen dari Produk DomestikBruto (PDB) selama tiga tahun terakhir.

Menurut estimasi Biro Pusat Statistik, defisit mencapai 5,2 persen dari PDB. Sementara data Akuntan Jenderal mencatat angka 4,7 persen. Selisih kedua estimasi setara sekitar 11 miliar Shekel atau sekitar 3,5 miliar Dolar AS.

Calcalist menilai angka tersebut berada di atas ambang yang dianggap berkelanjutan dalam jangka menengah. Penilaian Biro Pusat Statistik menggunakan standar internasional yang menjadi rujukan lembaga global dan perusahaan pemeringkat kredit.

“Defisit anggaran lebih dari 5 persen selama beberapa tahun memunculkan pertanyaan terkait arah fiskal Israel”, tulis laporan tersebut. Pemerintah dinilai perlu melakukan penyesuaian fiskal dan reformasi struktural untuk menjaga stabilitas pertumbuhan.

Laporan menilai risiko utama bukan berupa krisis mendadak, melainkan erosi bertahap pada mesin pertumbuhan jika kebijakan saat ini berlanjut tanpa perubahan.

Faktor demografis menjadi salah satu tekanan utama. Pertumbuhan kelompok usia lanjut meningkatkan beban sistem kesehatan dan jaminan sosial, sementara partisipasi angkatan kerja pada sebagian kelompok masyarakat masih terbatas dan menekan basis pajak.

Lemahnya integrasi sebagian kelompok ke pasar kerja, penurunan kualitas pendidikan dasar, serta tingginya tingkat kejahatan dengan dampak ekonomi juga disebut berpotensi melemahkan fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Calcalist menilai tantangan utama bukan mengejar lonjakan pertumbuhan baru, melainkan menjaga capaian ekonomi yang telah terbentuk. Defisit berulang, tekanan demografis, serta arah kebijakan fiskal dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan dibandingkan dekade sebelumnya.

Tags: