Panglima Angkatan Darat Iran: Rakyat Gagalkan Rencana Musuh Atas Seruan Panglima Tertinggi
POROS PERLAWANAN – Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami menyatakan mobilisasi rakyat pada 12 Januari dan 12 Februari berhasil menggagalkan rencana musuh. Pernyataan disampaikan dalam upacara wisuda Program Magister dan Doktor Manajemen Pertahanan di Universitas Komando dan Staf Angkatan Darat.
Mengutip laporan IRNA, Hatami menilai upaya tekanan eksternal terhadap Iran meningkat dalam beberapa bulan terakhir. “Pada 12 Januari dan 12 Februari, rakyat tampil lebih kuat atas seruan Panglima Tertinggi dan menggagalkan rencana musuh,” ujarnya, Senin 23 Februari.
Tekanan Eksternal dan Narasi Ketahanan
Hatami menilai musuh-musuh Iran menggunakan intimidasi dan tekanan politik untuk memengaruhi keputusan strategis. “Mereka mengeklaim tak terkalahkan, tetapi klaim itu salah dan sia-sia,” katanya. Hatami menyinggung pengalaman Militer Amerika Serikat di Vietnam, Afghanistan, dan Irak sebagai contoh kegagalan operasi jangka panjang.
Menurutnya, konflik modern tidak lagi bersifat konvensional. Spektrum perang meliputi sektor politik, ekonomi, sosial, militer, psikologis, dan kognitif. Kondisi tersebut menuntut kesiapan nasional yang luas, tidak terbatas pada militer.
“Perang saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Pengetahuan menjadi faktor penentu untuk menetralisasi rencana musuh,” kata Hatami.
Stabilitas dan Pengetahuan sebagai Instrumen Utama
Hatami menekankan stabilitas nasional sebagai fondasi perlawanan. “Yang akan berhasil melawan musuh adalah stabilitas. Dasar perlawanan bertumpu pada pengetahuan dan pemahaman misi,” ujarnya.
Menurut Hatami, seruan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata memberi arah strategis dalam membaca dinamika global. Respons terhadap tekanan eksternal dinilai sebagai kombinasi iman, kesiapan militer, dan dukungan publik.
Hatami juga menyinggung peristiwa Januari yang disebut sebagai upaya destabilisasi. “Musuh salah perhitungan. Rencana dijalankan pada Januari, namun gagal menghadapi kesiapan nasional,” katanya.
Ancaman “Erosi Strategis”
Hatami menyebut strategi musuh berbentuk “erosi strategis” melalui tekanan berkelanjutan. Target utama dinilai untuk melemahkan daya tahan sosial dan politik.
“Upaya melelahkan rakyat akan dihadapi dengan keteguhan. Integritas wilayah dan kedaulatan nasional tidak akan dikompromikan,” kata Hatami.
Menurutnya, kesiapan masyarakat menjadi faktor pembeda dalam konflik modern. Mobilisasi publik dipandang sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional.
Dukungan Militer dan Misi Historis
Hatami menegaskan komitmen Angkatan Darat menjaga kemerdekaan dan integritas wilayah. “Di Angkatan Darat, misi historis dipahami sebagai kewajiban membela negara hingga akhir,” ujarnya.
Hatami berharap lulusan baru memperkuat struktur strategis dan operasional militer. Kehadiran perwira baru diharapkan memberi energi dan perspektif baru dalam pengembangan doktrin pertahanan.
Universitas Staf sebagai Pusat Strategi
Komandan Universitas Komando dan Staf Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Farzad Esmaeili menegaskan peran lembaga pendidikan militer sebagai pusat pembentukan perwira strategis.
“Universitas Komando dan Staf Angkatan Darat berfungsi sebagai jantung ilmu militer dengan sejarah panjang pendidikan strategis,” ujarnya.
Esmaeili menyatakan kurikulum difokuskan pada ancaman baru, pengembangan riset berbasis kebutuhan, serta integrasi pengalaman operasional dalam pembelajaran.
“Perang tanpa pengetahuan pasti gagal. Pendidikan strategis menjadi kunci kesiapan menghadapi konflik masa depan,” katanya.
Menurut Esmaeili, institusi tersebut berkomitmen menyiapkan perwira yang mampu merancang operasi secara rasional, memahami dinamika global, dan menjaga keamanan nasional.
