Juru Bicara Kemlu Iran: Jika Negosiasi Berujung Konflik, Maka Militer Pasti Siap Merespons
POROS PERLAWANAN – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menegaskan kesiapan Militer menghadapi kemungkinan konflik di tengah meningkatnya tekanan dan pengerahan kekuatan Amerika Serikat di Kawasan. Pernyataan disampaikan dalam konferensi pers, pada Senin 23 Februari.
“Jika situasi ini mengarah pada perang, prajurit kitalah yang akan merespons. Pasukan Militer siap membela kedaulatan Iran sepanjang waktu,” kata Baghaei.
Mengutip laporan IRNA, Pemerintah menegaskan jalur diplomasi tetap berjalan meski tekanan meningkat. Spekulasi mengenai isi pembicaraan dinilai tidak berdasar dan hanya dibahas dalam forum resmi. Putaran negosiasi berikutnya diperkirakan berlangsung dalam dua hingga tiga hari dengan fokus utama pada pencabutan sanksi.
Baghaei menanggapi klaim pejabat Amerika terkait program nuklir Iran. Penilaian diserahkan kepada publik dan kalangan ahli. Negosiasi dinilai tidak akan berhasil jika dimulai dari prasangka. Program nuklir disebut bersifat damai dan berada dalam kerangka pengawasan internasional. Kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional tetap berlangsung sesuai komitmen pengamanan dan keputusan lembaga nasional.
Pernyataan Uni Eropa mengenai Iran dinilai bertentangan dengan prinsip hukum internasional. Kebijakan Balasan disusun berdasarkan keputusan lembaga keamanan nasional dan parlemen. Pendekatan diplomatik negara anggota Uni Eropa di Kawasan disebut akan diperlakukan berbeda sebagai respons politik.
Baghaei menolak narasi menyerah dalam konteks negosiasi. “Bangsa Iran menuntut martabat, kemerdekaan, dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional,” ujarnya. Pemerintah menyatakan tidak tertarik memperpanjang proses pembicaraan dan menargetkan pencabutan sanksi dalam waktu sesingkat mungkin.
Penerapan sukarela Protokol Tambahan disebut bergantung pada imbal balik nyata, terutama pencabutan sanksi ekonomi, merujuk pengalaman implementasi selama periode kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action. Langkah ini diposisikan sebagai mekanisme membangun kepercayaan terhadap sifat damai program nuklir.
Baghaei juga menyinggung perang informasi dan dinamika Kawasan. Situasi domestik disebut tetap normal meski ada seruan evakuasi dari sejumlah negara. Setiap serangan terhadap Iran dinilai sebagai agresi dengan konsekuensi serius, sementara jalur diplomasi tetap ditempuh bersamaan dengan kesiapan pertahanan.
Pemerintah Iran turut menyampaikan kekhawatiran terkait potensi kebangkitan jaringan ekstremis di Kawasan serta mendorong dialog untuk meredakan ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan. Kontradiksi pernyataan pejabat Amerika disebut menghambat proses diplomasi dan ancaman penggunaan kekuatan dinilai melanggar prinsip hukum internasional.
“Kesepakatan yang saling menguntungkan harus memulihkan hak bangsa Iran dan mengakui penggunaan energi nuklir damai,” kata Baghaei.
