Araghchi: Perubahan Rezim AS–Israel di Iran Misi Mustahil
POROS PERLAWANAN – Abbas Araghchi menyebut proyek “perubahan rezim” yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai “misi yang mustahil”, menyusul serangan militer terbaru terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip Press TV, Araghchi menegaskan ketahanan Iran di tengah eskalasi konflik. “Kami tahu bagaimana membela diri dan kami akan bertahan,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika agresi berhenti, Iran juga akan menghentikan respons militernya.
Serangan dilaporkan menyasar sejumlah kota, termasuk Teheran, beberapa jam setelah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada verifikasi independen terkait skala kerusakan maupun jumlah korban. Media pemerintah Iran menyebut terdapat korban sipil, termasuk anak-anak, namun angka resmi belum diumumkan.
Eskalasi terjadi saat perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung dengan mediasi Oman. Araghchi memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan tersebut. Ia mempertanyakan konsistensi Washington yang terlibat diplomasi sembari melancarkan serangan militer.
“Bagaimana mungkin mereka berbicara tentang kemajuan dalam perundingan, lalu menyerang di tengah proses itu?” katanya, merujuk pada putaran pembicaraan di Jenewa beberapa hari sebelumnya.
Angkatan bersenjata Iran kemudian meluncurkan operasi balasan terkoordinasi. Target yang disebut meliputi fasilitas militer dan intelijen Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Iran sebelumnya telah memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi militer terhadap Iran.
Araghchi mengaku telah berkomunikasi dengan sejumlah menteri luar negeri negara Teluk. Menurutnya, serangan terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut merupakan “tindakan defensif” dan tidak ditujukan kepada negara tuan rumah. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan menonton,” tegasnya.
Ia juga membantah kabar mengenai tewasnya pejabat tinggi pemerintah atau komandan militer Iran. “Mereka aman dan masih hidup,” ujarnya.
Pernyataan Araghchi menandai fase baru ketegangan regional. Situasi di Timur Tengah kini berada dalam tekanan tinggi, dengan risiko perluasan konflik jika tidak segera dikendalikan melalui jalur diplomatik.
