Larijani: Selat Hormuz Tak Akan Aman Selama Perang, Teheran Peringatkan ‘Banyak Kejutan’ Jika Fasilitas Nuklir Diserang
POROS PERLAWANAN – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menyatakan bahwa keamanan di Selat Hormuz tidak mungkin terwujud selama perang yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung di Kawasan.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X pada Senin 9 Maret, Larijani menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung telah menciptakan kondisi yang membuat jalur energi strategis tersebut tidak lagi aman.
“Keamanan di Selat Hormuz tidak akan tercapai selama api perang yang dinyalakan Amerika Serikat dan Israel terus berlangsung di Kawasan”, tulisnya.
Larijani menambahkan bahwa konflik tersebut terjadi akibat desain pihak-pihak tertentu yang secara aktif mendukung dan memperburuk eskalasi perang.
Iran Peringatkan Serangan terhadap Fasilitas Nuklir
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan bahwa sembilan hari setelah dimulainya apa yang ia sebut sebagai “Operasi Kemarahan Epik”, yang merujuk pada serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dampak ekonomi global mulai terlihat.
Menurut Araghchi, harga minyak dunia melonjak tajam, sementara harga berbagai komoditas lain juga mengalami kenaikan signifikan.
Menurutnya, Washington tengah merencanakan serangan terhadap fasilitas energi dan nuklir Iran.
“Kami mengetahui bahwa Amerika Serikat merencanakan serangan terhadap fasilitas minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan dampak guncangan inflasi yang sangat besar,” ujarnya.
Araghchi menegaskan bahwa Iran telah siap menghadapi kemungkinan tersebut.
“Iran sepenuhnya siap. Kami memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan,” katanya.
Selat Hormuz Praktis Lumpuh
Para pejabat Iran juga menegaskan bahwa Teheran tidak menutup Selat Hormuz, tetapi jalur tersebut secara praktis tidak lagi berfungsi akibat perang yang berlangsung di Kawasan.
Menurut mereka, kapal-kapal tanker kini enggan melintasi Selat tersebut karena meningkatnya risiko keamanan.
Gangguan tersebut berdampak besar terhadap perdagangan global.
Perusahaan analisis energi Kpler, yang mengoperasikan platform pemantauan maritim MarineTraffic, melaporkan bahwa pergerakan kapal tanker minyak di kawasan tersebut turun hingga 90 persen.
Situasi ini turut mendorong harga minyak dunia melampaui 115 Dolar per barel, sementara sejumlah negara mulai mempertimbangkan langkah pengurangan produksi.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG) melewati wilayah tersebut setiap hari.
Ketegangan Energi Global Meningkat
Pernyataan para pejabat Iran tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Jika konflik terus meningkat, para analis memperingatkan bahwa Selat Hormuz berpotensi menjadi salah satu titik krisis paling sensitif dalam sistem energi dunia.
