IRGC: Infrastruktur Militer AS di Kawasan Telah Dihancurkan, Iran yang Akan Menentukan Akhir Perang
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, ketegangan militer di Asia Barat terus meningkat setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran menegaskan bahwa pasukannya telah menghantam berbagai fasilitas Militer Amerika Serikat di Kawasan. Dalam pernyataan terbaru, Juru Bicara IRGC menegaskan bahwa Teheran kini memegang kendali dalam menentukan arah dan akhir konfrontasi yang sedang berlangsung.
Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa operasi balasan Iran telah menghancurkan sejumlah infrastruktur Militer utama milik Amerika Serikat yang tersebar di berbagai titik strategis Kawasan. Menurutnya, langkah ini merupakan respons langsung terhadap agresi yang dilancarkan Washington bersama Rezim Israel terhadap Republik Islam.
“Iran adalah pihak yang pada akhirnya akan menentukan kapan perang ini berakhir,” tegas Naeini.
Ia menambahkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berada dalam kesiapan penuh untuk melindungi kepentingan strategis negara, termasuk jalur energi dan keamanan sumber daya minyak di kawasan Teluk.
Salah satu pesan paling mencolok dari Teheran adalah peringatan terhadap armada Militer Amerika yang berada di jalur laut vital dunia. Naeini mengungkapkan bahwa pasukan Iran saat ini memantau secara ketat kehadiran kapal induk Amerika, USS Gerald R. Ford yang disebut berada di sekitar Selat Hormuz.
“Pasukan kami sedang menunggu armada Amerika dan kapal induk Gerald R. Ford di Selat Hormuz,” ujarnya, memberi sinyal bahwa konfrontasi di jalur maritim paling sensitif di dunia itu bisa meningkat kapan saja.
Dalam pernyataannya, Naeini juga menolak klaim yang disampaikan Presiden AS, Donald Trump mengenai keberhasilan Washington menghancurkan aset Militer Iran. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai “kebohongan murni” yang merupakan bagian dari perang psikologis untuk menutupi kegagalan strategi Amerika.
Menurutnya, kampanye militer yang dimulai Washington dengan propaganda dan disinformasi justru berbalik merugikan pihak Amerika setelah serangan balasan Iran menunjukkan efektivitasnya di lapangan.
“Iran akan tetap berdiri dengan tekad yang tidak tergoyahkan,” tegasnya.
Sementara itu, seorang pejabat Militer senior Iran sebelumnya juga mengungkapkan bahwa keamanan kKawasan tidak bisa bersifat sepihak. Dalam pernyataan kepada Al Mayadeen, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan ekspor minyak dari Kawasan terus mengalir kepada negara-negara yang terlibat dalam agresi terhadap Republik Islam.
“Kami tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak dari kawasan ini mencapai pihak yang memusuhi kami hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi perang, lalu lintas komersial di jalur laut vital seperti Selat Hormuz dapat berada di bawah aturan keamanan yang jauh lebih ketat. Menurutnya, jika serangan terhadap infrastruktur sipil Iran terus berlanjut, maka ketidakstabilan tidak akan terbatas pada satu negara saja.
“Keamanan harus berlaku untuk semua pihak, atau tidak ada keamanan bagi siapa pun,” ujarnya.
Konfrontasi ini sendiri memanas sejak akhir Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer yang ditujukan untuk menekan Iran. Namun, respons cepat dari sistem pertahanan Iran serta mobilisasi kekuatan Militernya disebut berhasil menggagalkan rencana kemenangan cepat yang diharapkan Washington dan Tel Aviv.
Sebagai bagian dari operasi balasan, Iran dilaporkan menargetkan berbagai instalasi Militer Amerika di beberapa negara Kawasan, termasuk Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania, serta pangkalan militer di wilayah Kurdistan Irak.
Di saat yang sama, serangan drone dan rudal Iran juga diarahkan ke target strategis Israel, termasuk infrastruktur ekonomi dan fasilitas vital.
