The New York Times: Washington Terkejut oleh Kemampuan Iran Guncang Ekonomi Global di Selat Hormuz
POROS PERLAWANAN — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai menyadari dampak besar kemampuan Iran “mengganggu” jalur energi dunia melalui Selat Hormuz. Laporan The New York Times menyebut kemampuan tersebut melampaui perkiraan awal para pejabat Washington.
Media itu menulis Pemerintah AS menilai potensi gangguan ekonomi global dari Selat Hormuz jauh lebih besar dibanding kalkulasi awal Gedung Putih. Jalur laut tersebut menjadi titik vital distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan langsung memicu tekanan pada pasar energi.
Laporan Al Mayadeen pada Senin 16 Maret mengutip pemberitaan The New York Times terkait evaluasi terbaru Washington mengenai perkembangan konflik di kawasan Teluk.
Surat kabar tersebut juga mencatat meningkatnya kemungkinan eskalasi militer. Risiko perang dinilai lebih besar dibanding perkiraan awal pejabat Gedung Putih ketika konflik mulai berlangsung.
Tekanan politik muncul ketika Trump meminta Militer mempercepat langkah membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Permintaan tersebut disampaikan kepada Kepala Staf Gabungan ketika jalur energi dunia terus menghadapi gangguan.
Dalam situasi tersebut, Trump dilaporkan menghadapi pilihan strategis yang sulit saat konflik memasuki minggu ketiga. Sejumlah pejabat Gedung Putih menyebut komunikasi intens berlangsung antara Trump dan para pemimpin negara Arab.
Salah satu kontak utama berada di Riyadh. Trump disebut rutin berdiskusi dengan Mohammed bin Salman tentang dinamika Kawasan.
Menurut pejabat Gedung Putih yang dikutip The New York Times, pesan yang diterima Trump dari Riyadh mendorong pendekatan militer lebih keras terhadap Iran.
Di tengah eskalasi tersebut muncul tanda ketegangan dalam koordinasi antara Washington dan Tel Aviv. Beberapa tokoh Partai Republik menyampaikan kekhawatiran soal dampak konflik terhadap basis politik Trump jika keterlibatan Militer Amerika terus meningkat.
Dalam laporan yang sama disebutkan Trump bersama Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper, memperingatkan Israel agar tidak menyerang tangki minyak besar di luar Teheran.
Peringatan tersebut didasari kekhawatiran terhadap potensi balasan Iran yang dapat memicu lonjakan harga minyak global.
Namun laporan menyebut Benyamin Netanyahu mengabaikan peringatan tersebut. Serangan terhadap fasilitas penyimpanan minyak tetap terjadi dan memicu kebakaran besar serta lonjakan awal harga minyak dunia.
Beberapa pejabat Gedung Putih menilai Netanyahu menginginkan gambaran dramatis Ibu Kota Iran yang diselimuti asap hitam. Namun sebaliknya, perkembangan di lapangan justru memicu peningkatan serangan pesawat tak berawak Iran terhadap kilang minyak serta fasilitas penyimpanan energi di Kawasan.
Laporan lain dari CNN menyebut Pentagon dan National Security Council sebelumnya meremehkan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Militer Amerika.
Sementara itu The Wall Street Journal memperingatkan kelanjutan konflik dapat membuat Selat Hormuz lumpuh dan memicu kekacauan berkepanjangan pada pasar minyak global.
Sumber keamanan tingkat tinggi Iran sebelumnya menyampaikan kepada Al Mayadeen bahwa tidak ada kapal di bawah perlindungan Amerika yang melintasi Selat Hormuz. Pesan yang disampaikan Iran menegaskan pilihan tegas terkait jalur strategis tersebut.
“Entah keamanan penuh bagi Selat tersebut atau ketidakstabilan permanen,” ujar sumber tersebut.
Iran juga memperingatkan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat atau sekutunya agar tidak melintasi jalur tersebut selama operasi militer terhadap Iran dan Lebanon berlangsung. Setiap upaya pelayaran disebut berisiko menghadapi serangan rudal serta kapal tanpa awak.
Ketegangan Kawasan turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga satu barel minyak telah melampaui angka 100 Dolar AS di tengah kekhawatiran gangguan distribusi energi global.
Di saat bersamaan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei menyerukan kapal yang ingin melintasi kawasan maritim strategis agar berkoordinasi dengan Angkatan Laut Iran demi menjaga keamanan navigasi.
