Selat Hormuz Makan Korban, Raksasa Aluminium Bahrain Pangkas Produksi 19 Persen
POROS PERLAWANAN — Perusahaan aluminium terbesar di Bahrain, Aluminium Bahrain (Alba), memangkas kapasitas produksi sekitar 19 persen di tengah gangguan pasokan bahan baku dan lonjakan harga aluminium global akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Laporan Al Mayadeen pada Minggu 15 Maret menyebut Alba mulai menjalankan penghentian bertahap sebagian lini produksi guna menjaga ketersediaan bahan baku di tengah lalu lintas maritim yang hampir terhenti di jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat seiring eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi keamanan memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi energi dan bahan mentah melalui salah satu rute perdagangan paling vital di dunia.
Sejumlah pejabat Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz berada dalam pengawasan. Pernyataan tersebut juga menegaskan sikap Teheran terkait pembatasan akses bagi kapal Amerika Serikat, Israel, serta negara sekutu yang melintas di kawasan tersebut.
Dalam pengumuman resmi, Alba menyampaikan penutupan tiga jalur produksi. Kapasitas tersebut mewakili sekitar 19 persen dari total kemampuan produksi perusahaan yang mencapai 1,6 juta ton aluminium per tahun.
Manajemen perusahaan menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas operasional fasilitas lain serta mengelola stok bahan baku secara lebih efisien selama periode gangguan pasokan.
Perkembangan tersebut menunjukkan dampak langsung gejolak geopolitik Asia Barat terhadap industri aluminium global. Produsen logam menghadapi tekanan harga sekaligus risiko gangguan distribusi bahan mentah.
Data pasar menunjukkan harga aluminium di London Metal Exchange meningkat lebih dari 9 persen sejak akhir bulan lalu, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 2022.
Aluminium Bahrain (Alba) termasuk produsen aluminium terbesar di dunia. Perusahaan tersebut mengoperasikan kompleks peleburan aluminium terbesar dalam satu lokasi dengan kapasitas produksi melebihi 1,6 juta ton per tahun. Alba berdiri pada 1968 dan menjadi salah satu pilar utama sektor industri Bahrain dengan ekspor ke berbagai pasar global.
