Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

NYT Sebut AS Terjebak ‘Perang untuk Satu Orang’, Netanyahu

POROS PERLAWANAN — Ketika konflik antara Israel dan Iran terus meningkat, sebuah artikel opini di The New York Times mengajukan pertanyaan yang tajam: apakah perang ini benar-benar tentang keamanan, atau tentang politik kekuasaan di dalam negeri Israel?

Dalam artikel berjudul “A War for One Man” yang terbit pada 13 Maret 2026, jurnalis Israel-Amerika, Meirav Zonszein menilai eskalasi konfrontasi dengan Iran tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Menurut Zonszein, konflik dengan Iran berpotensi memberikan keuntungan politik bagi Netanyahu di tengah tekanan domestik yang meningkat. Perang, dalam kerangka ini, bukan sekadar instrumen keamanan nasional, melainkan juga alat untuk membentuk narasi politik yang dapat mempertahankan posisinya di dalam negeri.

“Netanyahu ingin warga Israel membicarakan Teheran alih-alih peristiwa 7 Oktober, dan tentang musuh eksistensial alih-alih akuntabilitas politik, bencana yang belum terselesaikan di Gaza, atau krisis di Lebanon”, tulis Zonszein. Ia juga menyinggung konflik yang kembali memanas dengan Hizbullah di Lebanon, yang menurutnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda.

Dalam analisisnya, Zonszein menggambarkan dinamika tersebut sebagai “perang untuk satu orang” — sebuah konflik yang, setidaknya secara politik, berpotensi lebih menguntungkan satu figur daripada menjawab persoalan strategis yang lebih luas.

Strategi yang tidak jelas

Artikel tersebut juga mempertanyakan apakah perang terhadap Iran memiliki tujuan strategis yang realistis.

Sejumlah analis yang dikutip dalam tulisan itu menilai bahwa serangan militer mungkin dapat melemahkan sebagian kemampuan Iran, tetapi tidak otomatis menghasilkan perubahan rezim di Teheran. Bahkan gagasan mengenai perubahan rezim dinilai lebih banyak bergantung pada asumsi bahwa masyarakat Iran akan bangkit melawan Pemerintah mereka sendiri—sebuah skenario yang jauh dari kepastian.

Di sisi lain, risiko eskalasi regional dinilai sangat nyata. Iran memiliki jaringan sekutu di Kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon serta berbagai kelompok milisi lain yang dapat memperluas konflik melampaui batas Israel dan Iran.

Efektivitas serangan terhadap program nuklir Iran juga menjadi perdebatan. Sejumlah pengamat menilai operasi militer kemungkinan hanya akan menunda perkembangan kemampuan nuklir Iran, bukan menghentikannya secara permanen.

Perang dan politik domestik

Bagi Zonszein, konflik eksternal sering kali memainkan peran penting dalam dinamika politik domestik. Dalam situasi Israel saat ini, eskalasi militer dapat berfungsi untuk mengonsolidasikan dukungan publik dan menyatukan masyarakat di bawah persepsi ancaman bersama.

Netanyahu sendiri menghadapi tekanan politik yang signifikan di dalam negeri. Dalam konteks seperti itu, konflik eksternal dapat mengubah arah perdebatan politik domestik, menggeser fokus dari krisis internal menuju ancaman eksternal.

Beberapa pengamat bahkan menilai eskalasi konflik dapat memengaruhi dinamika Pemilu Israel di masa mendatang. Dalam kerangka ini, perang tidak hanya dipandang sebagai respons keamanan, tetapi juga sebagai alat mobilisasi politik.

Washington dalam bayang-bayang konflik

Artikel opini tersebut juga menyoroti risiko keterlibatan yang lebih dalam dari Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran.

Menurut analisis tersebut, tujuan strategis perang masih belum sepenuhnya jelas, sementara biaya militer, ekonomi, dan geopolitik dari konflik besar dengan Iran dinilai sangat tinggi. Dukungan politik domestik di Amerika Serikat terhadap perang skala penuh juga dinilai belum kuat.

Di tingkat global, konflik dengan Iran berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi internasional, terutama melalui jalur energi strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu koridor utama distribusi minyak dunia.

Argumen keamanan Israel

Di sisi lain, Rezim Israel menegaskan bahwa kebijakan militernya didorong oleh pertimbangan keamanan nasional. Israel menilai Iran sebagai ancaman eksistensial, khususnya terkait program nuklir dan pengembangan sistem rudal negara tersebut.

Israel juga menyatakan bahwa tekanan militer terhadap Iran bertujuan menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menentukan masa depan politik mereka sendiri.

Namun bagi Zonszein, pertanyaan mendasar tetap belum terjawab: apakah perang ini memiliki tujuan akhir yang jelas—atau sekadar menjadi instrumen politik di tengah krisis yang lebih luas.

Tulisan tersebut muncul ketika ketegangan antara Israel, Iran, dan Kelompok Perlawanan di Gaza serta Lebanon terus meningkat, sebuah dinamika yang oleh banyak analis dipandang berpotensi mendorong kawasan Timur Tengah menuju eskalasi konflik yang lebih luas.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *