Komandan Khatam al-Anbiya: Angkatan Bersenjata Iran Siap Bertempur hingga Kemenangan Penuh
POROS PERLAWANAN — Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan Angkatan Bersenjata Iran tetap berada di jalur menuju kemenangan penuh dalam konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan yang dikutip Press TV pada Selasa 24 Maret, menyebut perang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel dengan tujuan melemahkan struktur negara Iran. Abdollahi menilai serangan awal pada 28 Februari menargetkan kepemimpinan dan komando militer dengan harapan melumpuhkan negara dalam waktu singkat.
Menurut Abdollahi, kalkulasi tersebut tidak tercapai. Perlawanan militer dan mobilisasi nasional dinilai mampu menahan tekanan di medan tempur selama hampir satu bulan terakhir.
“Musuh berusaha memecah dan menghancurkan Iran, namun mereka menghadapi realitas berbeda di lapangan,” ujar Abdollahi dalam pernyataan resmi.
Ia juga menyampaikan penilaian terhadap posisi Amerika Serikat dalam konflik.
“Kekuatan-kekuatan besar yang selama ini mengandalkan tekanan dan intimidasi kini menghadapi kebuntuan di hadapan dunia,” demikian kutipan pernyataan tersebut.
Abdollahi menyebut dinamika terbaru menunjukkan pihak lawan mulai mencari jalan keluar dari konflik. Pernyataan itu juga menyinggung langkah diplomatik yang disebut dilakukan Washington melalui sejumlah negara untuk meredakan tekanan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut telah membaca situasi lapangan dan menghadapi kesulitan mencapai tujuan strategisnya.
Pernyataan Militer Iran juga menekankan dukungan terhadap kepemimpinan baru negara. Majelis Pakar sebelumnya menetapkan Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam pada 9 Maret, setelah syahidnya Imam Ali Khamenei.
Abdollahi menegaskan komitmen Angkatan Bersenjata terhadap kepemimpinan tersebut serta dukungan publik sebagai faktor utama dalam kelanjutan operasi militer.
Sejak 28 Februari, Iran melancarkan serangan balasan secara berkelanjutan menggunakan rudal dan drone ke target Israel serta kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.
Pejabat Iran juga berulang kali mengingatkan potensi eskalasi lanjutan, termasuk kemungkinan gangguan terhadap jalur energi global di Selat Hormuz jika tekanan militer meningkat.
