Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah: Kami akan Tawan Zionis di Saat yang Tepat

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qasim dalam pidatonya pada Senin malam 13 April menyatakan, Gerakan Perlawanan telah mempersiapkan diri secara diam-diam dan tanpa diketahui. Menurutnya, Perlawanan akan menawan tentara Israel kapan pun ada kesempatan.

Diberitakan Fars, sambil mengucapkan selamat Hari Paskah kepada Umat Kristen, Syekh Qasim mengatakan bahwa ia berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar memberikan kesuksesan kepada semua orang di jalan cinta, pelayanan sosial, dan etika luhur al-Masih a.s .

Dalam lanjutan pidatonya, Ia menyatakan bahwa Lebanon telah menghadapi agresi kejam dari Israel dan Amerika Serikat sejak dimulainya pertempuran “Uli al-Bas”. Ia mengatakan bahwa Lebanon telah bertahan dan menunjukkan kesabaran selama 15 bulan terakhir di tengah keengganan Zionis untuk melaksanakan satu pun klausul dari perjanjian gencatan senjata 27 November 2024.

Syekh Qasim menekankan bahwa selama periode ini, diplomasi tidak maju sedikit pun dan agresi Israel terus berlanjut dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.

“Tujuan Rezim Pendudukan Israel jelas dan nyata. Mereka berusaha menghancurkan segala bentuk kekuatan Lebanon. Tidak dapat dibenarkan jika Pemerintah Lebanon menjadi alat untuk melaksanakan tuntutan Israel. Nasionalisme berarti bersatu, bukan terpecah belah di hadapan musuh.”

“Kami memutuskan untuk menghadapi dan membela Lebanon serta rakyatnya, dan kami memasuki pertempuran ‘al-Asf al-Ma’kul’”, imbuhnya..

Ia menyatakan bahwa agresi yang sedang berlangsung saat ini bukanlah demi “keamanan Israel”, melainkan bertujuan untuk menelan Lebanon dan menghancurkan kekuatan negara, rakyat, serta Perlawanannya.

“Sejak pembentukan Pemerintahan Anda, apa yang telah diberikan oleh mereka yang menekan Lebanon kepada Anda?” kata Syekh Qasim ditujukan kepada Perdana Menteri Lebanon.

“Kami menentang negosiasi dengan Rezim Pendudukan. Perundingan ini tidak ada gunanya. Setiap perundingan memerlukan konsensus nasional untuk mengubah pendekatan.”

“Perundingan merupakan serangkaian konsesi gratis. Kami tidak akan pernah menyerah dan akan menghadapi para agresor hingga nafas terakhir kami.”

Sekretaris Jenderal Hizbullah menyatakan bahwa perundingan ini berarti penyerahan Lebanon dan penghilangan unsur-unsur kekuatannya. Ia menambahkan bahwa perjanjian November 2024 sudah ada dan mereka harus melaksanakannya terlebih dahulu sebelum membicarakan Perlawanan.

“Cukup sudah para pejabat yang mengabaikan tanggung jawab mereka terhadap Perlawanan,” tandasnya.

“Para pejabat Lebanon ingin menyerahkan kemampuan, sumber daya, dan rakyat mereka sendiri. Pemerintah bertanggung jawab untuk mempertahankan kedaulatan, membebaskan wilayah yang diduduki, dan melindungi warganya. ”

“Satu-satunya cara untuk mencapai kedaulatan dan menyelamatkan Lebanon adalah dengan melaksanakan ketentuan perjanjian. Ketentuan tersebut mengatur penghentian total permusuhan, penarikan pasukan segera, pembebasan tawanan, pemulangan pengungsi, dan rekonstruksi wilayah yang rusak.”

“Jika agresi terus berlanjut, kami akan menghadapinya dan tidak akan menyerah. Para pejabat harus memikirkan cara menyusun rencana untuk menanggapi agresi tersebut. Selama Otoritas Lebanon terus memfasilitasi tujuan-tujuan agresi tersebut, agresi itu akan terus berlanjut.”

“Ini adalah perang Lebanon melawan Musuh Israel-Amerika, dan bukan perang pihak lain.”

Syekh Qasim menyatakan bahwa para pejuang Perlawanan hadir di lapangan, menciptakan kisah-kisah epik terbesar dengan penampilan legendaris mereka, bertempur di garis depan dengan semangat yang sangat tinggi untuk meraih syahadah.

“Meskipun ada pengorbanan besar, kami menang mulai saat ini dan selamanya. Kemenangan berarti terus menghadapi musuh dan menimbulkan penderitaan bagi mereka.”

Dia mengatakan bahwa Perlawanan telah mempersiapkan diri secara diam-diam dan tersembunyi, dan setiap kali ada kesempatan, mereka akan menangkap tentara musuh.

“Kami bertempur dengan cara yang mirip dengan pertempuran di Karbala dan Asyura. Para pejuang terlibat dalam operasi dinamis dan tidak hadir secara tetap di wilayah geografis atau lokasi tertentu.”

Sembari menekankan bahwa Perlawanan tidak akan membiarkan musuh menetap di selatan Lebanon, Syekh Qasim mengatakan bahwa permukiman-permukiman Zionis tidak akan merasakan keamanan, termasuk jika Pendudukan memasuki bagian mana pun di Lebanon.

Sambil menekankan bahwa kembalinya para pengungsi merupakan hal mendasar bagi proses rekonstruksi, Syekh Qasim mengatakan,”Ketika para pejabat politik mengambil keputusan untuk mengkriminalisasi Perlawanan, bagaimana mungkin mereka kemudian meminta koordinasi dari pihak Perlawanan? Mereka harus membatalkan keputusan ini.”

“Para penjajah akan dihancurkan, meskipun butuh waktu. Kita adalah pemilik tanah ini dan kita akan membuat Lebanon bangga.”

Ia menilai bahwa bentrokan antara Militer Lebanon dan Perlawanan tidak mungkin terjadi. Syekh Qasim lalu mengatakan,”Amerika dan Israel, dengan memanfaatkan masalah pengungsi, berusaha memicu konflik sektarian Sunni-Syiah di Lebanon, tetapi kami tidak akan membiarkan konflik semacam itu terjadi.”

Sekretaris Jenderal Hizbullah juga mengatakan bahwa musuh-musuh ingin menebar perpecahan antara Hizbullah dan Gerakan Amal, tetapi mereka akan gagal karena kami semua adalah anak-anak Imam Musa al-Sadr.

Sembari menandaskan bahwa Hizbullah tidak memiliki kelompok rahasia di Kuwait, Bahrain, atau negara lain mana pun, Syekh Qasim mengatakan bahwa rakyat Suriah bebas dalam keputusan mereka dan bahwa fase baru telah muncul di negara itu yang tidak ada hubungannya dengan Hizbullah.

“Jika Perlawanan tidak memutuskan untuk mengangkat senjata, skala kerusakan di Lebanon akan lebih parah,” tegasnya.

Syekh Qassim menambahkan bahwa beberapa pihak di negara itu kecewa dengan keterlibatan Lebanon dalam negosiasi gencatan senjata. Ia mengatakan bahwa Beirut harus bekerja sama dengan Iran dan semua negara di dunia terkait gencatan senjata di negara itu, sambil menambahkan bahwa pejabat pemerintah Lebanon harus memperbaiki sikap mereka terhadap Iran dan Duta Besarnya di Beirut.

Sekretaris Jenderal Hezbollah mengakhiri pidatonya dengan menyampaikan ucapan belasungkawa kepada para syuhada jurnalis dari jaringan al-Manar, al-Mayadeen serta Radio al-Nour, para syuhada pasukan keamanan dan tentara Lebanon, serta para syuhada dari kalangan dokter, paramedis, dan perawat.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *