Shariatmadari: Kritik Tanpa Perhitungan Berisiko Bocorkan Rahasia Negara dan Lemahkan Ketahanan Nasional
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Redaksi Kayhan, Hossein Shariatmadari menegaskan kritik publik yang disampaikan tanpa mempertimbangkan kondisi politik dan keamanan berpotensi membuka rahasia negara serta dimanfaatkan pihak lawan. Kehati-hatian dalam berbicara dan menulis, menurutnya, menjadi keharusan di tengah situasi yang sangat sensitif.
Dalam tulisannya yang terbit pada Kamis 16 April, berjudul “Daghdagheh-ha-ye moqaddas va niyaz-e moqaddas-tar az an (Kegelisahan yang suci dan kebutuhan yang lebih suci dari itu)”, Shariatmadari mengutip pesan Ruhullah Imam Khomeini yang mengingatkan masyarakat agar tidak mengajukan pertanyaan atau kritik tanpa memperhitungkan kompleksitas kondisi negara. Penjelasan terbuka atas isu-isu tertentu, menurutnya, justru dapat mengungkap informasi strategis dan menimbulkan persoalan baru, bukan menyelesaikan masalah.
Ia juga merujuk pandangan Imam Ali Khamenei yang menilai sebagian kritik muncul akibat keterbatasan informasi. Keputusan para pejabat, tulisnya, didasarkan pada perhitungan matang dan pertimbangan menyeluruh.
“Dalam sejumlah kasus, keputusan yang tampak dipertanyakan justru dilandasi perhitungan yang tepat. Kemungkinan itu harus selalu dipertimbangkan sebelum menilai”, tulisnya.
Shariatmadari menekankan setiap sistem pemerintahan memiliki rahasia yang tidak dapat dipublikasikan. Hal ini bukan karena publik tidak berhak mengetahui, melainkan untuk mencegah pihak luar memanfaatkan informasi tersebut dalam menyusun langkah antisipatif atau serangan.
Dalam kondisi tertentu, penyampaian informasi yang tidak utuh bahkan menjadi bagian dari strategi untuk mengelabui lawan. Ia mengutip prinsip dalam tradisi Islam yang menegaskan bahwa dalam peperangan, strategi dan pengelabuan merupakan bagian dari upaya memenangkan pertempuran.
Pemimpin Redaksi Kayhan itu menilai kondisi Iran saat ini jauh lebih kompleks dan sensitif dibanding masa sebelumnya. Karena itu, seruan untuk berhati-hati dalam menyampaikan kritik menjadi semakin mendesak.
Meski demikian, Shariatmadari menegaskan pengawasan publik tetap merupakan bagian penting dalam sistem. Kritik tetap diperlukan selama bersifat konstruktif dan bertujuan memperbaiki.
Namun, dalam situasi yang diwarnai tekanan eksternal, kritik yang tidak terukur berisiko dimanfaatkan oleh pihak luar maupun jaringan dalam negeri yang berseberangan.
“Kritik yang tidak hati-hati dapat membuka celah bagi pihak yang ingin memecah-belah dan melemahkan sistem”, tulisnya.
Ditambahkannya, dalam kondisi negara tengah menghadapi tekanan dan konflik, pernyataan publik harus dijaga agar tidak dimaknai sebagai tanda perpecahan atau melemahkan konsolidasi internal.
Tulisan tersebut lebih jauh menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kritik konstruktif dan tanggung jawab kolektif dalam melindungi keamanan serta stabilitas negara di tengah situasi krisis.
