Membuka Hormuz Saat Menang adalah Kesalahan Strategis
POROS PERLAWANAN — Keputusan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat 17 April membuka kembali lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz memicu kritik keras di dalam negeri. Hossein Shariatmadari menilai langkah ini melepas alat tekan utama saat posisi Iran masih unggul. Respons Donald Trump menunjukkan arah yang tidak berubah. Tekanan tetap berjalan.
Araghchi membuka akses pelayaran selama masa gencatan senjata Lebanon dengan jalur yang diatur otoritas maritim. Keputusan ini tampak teknis. Namun dampaknya bersifat strategis.
Konflik lebih dari 40 hari memberi Iran posisi kuat. Penutupan Hormuz menekan jalur energi dan logistik lawan. Instrumen ini bekerja. Dalam kondisi seperti ini, pelepasan tekanan menuntut imbal balik yang jelas. Tidak ada indikasi itu.
Pemimpin Redaksi Kayhan, Hossein Shariatmadari menyebut keputusan ini tidak tepat waktu. Ia bahkan meminta kebijakan tersebut ditarik kembali. Argumennya sederhana: Instrumen efektif tidak dilepas saat hasil belum diamankan.
Dasar hukum tidak menjadi masalah. Kedaulatan Iran atas Hormuz diakui secara internasional. Kontrol atas jalur ini sah dan dapat dijalankan kapan pun. Hal yang dipersoalkan adalah penggunaan hak tersebut.
Respons Washington memperjelas situasi. Trump menyatakan jalur terbuka untuk perdagangan global. Pada saat yang sama, tekanan terhadap Iran tetap dilanjutkan hingga kesepakatan tercapai penuh. Tidak ada konsesi yang menyertai pernyataan itu.
Trump juga memutus kaitan antara pembukaan Hormuz dan gencatan senjata Lebanon. Ia menempatkan isu tersebut di luar kerangka regional yang digunakan Iran. Posisi Amerika konsisten. Tekanan dipertahankan, peluang dimanfaatkan.
Dalam kondisi ini, pelonggaran tidak mengubah posisi lawan. Pelonggaran hanya mengubah posisi sendiri.
Keputusan di Hormuz bukan soal pelayaran. Ini soal pengelolaan tekanan. Ketika tekanan dilepas tanpa imbal balik, hasilnya dapat dihitung tanpa spekulasi.
