Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Ketika Iran Bicara Selat Malaka: Tanda Pudarnya Narasi Tunggal Amerika Sebagai ‘Polisi Dunia’

POROS PERLAWANAN – Pernyataan pejabat senior Iran, Ali Akbar Velayati, tentang Selat Hormuz hingga Selat Malaka bukan sekadar retorika. Itu adalah deklarasi geopolitik: bahwa dominasi Amerika Serikat atas jalur strategis dunia sedang dipatahkan—dan Iran ingin dunia menyadarinya.

Dalam unggahannya di platform X, Velayati secara eksplisit menyebut bahwa keamanan “Hormuz dan Malaka” terjamin berkat kekuatan Iran dan sekutunya.

Pernyataan tersebut muncul di saat yang tidak kebetulan.

Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas militer Amerika Serikat di Asia Tenggara meningkat signifikan. Laporan menyebut kapal perang AS mulai melintasi Selat Malaka—jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan global.

Tidak hanya itu, kerja sama pertahanan terbaru antara Washington dan Jakarta membuka peluang akses operasional yang lebih luas bagi Militer AS di kawasan tersebut. Dengan kata lain, Malaka—yang selama ini relatif jauh dari konflik langsung AS-Iran—kini mulai masuk dalam peta strategi militer Washington.

Hormuz: Bukti Nyata Bahwa AS Tak Lagi Berkuasa Penuh

Mari mulai dari fakta paling konkret.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat.

Bahkan, Iran secara terbuka menyatakan telah mengambil “kendali penuh” atas Selat tersebut, sekaligus memperingatkan kapal-kapal yang mencoba melintas.

Sementara itu, langkah Amerika Serikat—yang memblokade pelabuhan Iran dan mencegat kapal dagang—justru memperkuat argumen Teheran: bahwa Washington tidak lagi mampu mengendalikan situasi tanpa memaksakan kekuatan secara sepihak.

Malaka: Front Baru yang Mulai Terbuka

Di sinilah pernyataan Velayati menjadi jauh lebih signifikan—dan mengkhawatirkan bagi Barat.

Selat Malaka, yang selama ini dianggap jauh dari konflik Timur Tengah, kini mulai terseret dalam pusaran yang sama. Ketegangan di Hormuz telah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas Malaka, jalur yang menangani sekitar 40% perdagangan global.

Artinya jelas: ketika Hormuz terguncang, Malaka ikut terdampak.

Namun yang lebih penting, keterlibatan Amerika Serikat dalam mengamankan—atau lebih tepatnya, mengawasi—jalur ini menunjukkan satu hal: Washington tidak hanya ingin “menjaga”, tetapi juga mempertahankan kontrol strategis atas aliran perdagangan dunia.

Di sinilah Iran masuk dengan narasi tandingannya.

Dengan menyebut Malaka dalam pernyataan resminya, Teheran mengirim pesan: pengaruh Barat atas jalur strategis global tidak lagi absolut.

Velayati tidak berhenti pada kritik. Ia juga menyampaikan peringatan yang lebih keras: “Setiap tindakan jahat akan mendapat respons berantai.”

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran tidak lagi melihat konflik secara sempit di kawasan Teluk Persia. Dengan menyebut Malaka, Teheran mengirim pesan bahwa dampak konflik bisa meluas ke jalur perdagangan global—bahkan ke kawasan yang secara geografis jauh dari Iran.

Hegemoni yang Retak

Selama puluhan tahun, Amerika Serikat memosisikan diri sebagai penjaga stabilitas global—khususnya di jalur perdagangan strategis. Namun realitas saat ini justru menunjukkan paradoks: AS memblokade jalur laut internasional, mencegat kapal dagang, dan memperluas kehadiran militer ke titik-titik strategis.

Semua dilakukan atas nama “keamanan”.

Namun bagi Iran, dan bagi banyak negara lain, ini terlihat sebagai sesuatu yang berbeda: militerisasi jalur perdagangan global untuk mempertahankan dominasi.

Pernyataan Velayati, dengan menyebut Hormuz dan Malaka dalam satu napas, adalah upaya membongkar narasi tersebut.

Dunia yang Tak Lagi Unipolar

Hal yang paling mengganggu bagi Washington bukan hanya kemampuan Militer Iran, melainkan narasi yang dibawanya.

Dengan berani mengeklaim pengaruh hingga Malaka, Iran sedang mengatakan: dunia tidak lagi dikendalikan oleh satu kekuatan.

Persepsi yang sedang dibangun Iran cukup jelas: Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya penentu keamanan jalur global.

Dari Hormuz hingga Malaka, yang kini terlihat bukan sekadar meluasnya konflik, melainkan memudarnya narasi hegemonik Amerika Serikat sebagai penjamin tunggal stabilitas global. Tekanan dan manuver Iran—yang berani mengaitkan dua jalur paling vital dunia dalam satu kerangka geopolitik—menjadi tantangan terbuka terhadap dominasi lama Washington. Apa yang dulu dianggap tak tergoyahkan kini mulai retak: dunia tidak lagi sepenuhnya tunduk pada satu kekuatan, dan Iran, bersama sekutunya, tampil sebagai aktor yang secara aktif menguji sekaligus menggerus hegemoni tersebut.

Tags: