Media AS: Washington Dipecundangi Teheran dalam Perang Narasi
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah analisis, Foreign Affairs menulis bahwa dalam perang, tidak ada standar tunggal yang objektif untuk “kemenangan” atau “kekalahan”. Sebaliknya, konsep ini ditentukan oleh “pandangan dari pengamat.” Dan dalam hal ini, Amerika Serikat telah jalah sepenuhnya dalam perang melawan Iran.
Dilansir Fars, dalam artikel yang ditulis untuk Foreign Affairs, Dominic Tierney merujuk pada standar historis tinggi dari opini publik Amerika (model Perang Dunia II) dan menjelaskan mengapa serangan militer Washington tidak berarti “kemenangan” di benak orang Amerika.
“Bagi opini publik Amerika, ‘kemenangan sejati’ biasanya berarti penggulingan rezim lawan dan pembentukan pemerintahan yang bersahabat. Karena Pemerintah Iran tetap berkuasa meskipun terjadi pembunuhan terhadap pejabat terkemuka dan serangan besar-besaran, pencapaian tersebut tampaknya tidak cukup,” tulis Tierney.
Analisis Tierney mengacu pada data dari Lembaga Ipsos, yang menunjukkan bahwa 76 persen warga Amerika percaya bahwa perang ini “tidak sepadan” jika mempertimbangkan biaya dan manfaatnya.
Yang patut diperhatikan, bahkan di kalangan pendukung Partai Republik, hanya 55 persen yang menyetujui perang tersebut, yang menunjukkan adanya skeptisisme serius di tengah basis pemilih Trump.
Mengapa Iran Berhasil Memenangkan ‘Permainan Persepsi?’
Pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahwa musuh mengira Iran akan segera menyerah, namun Teheran justru memberikan “tanggapan yang kuat”, pada dasarnya bertumpu pada narasi psikologis bahwa Iran—bertentangan dengan tujuan awal perang—tetap bertahan dan berperan aktif.
Tierney menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz dan pemungutan biaya kepada kapal-kapal (konon sebesar $2 juta per kapal) merupakan “prestasi materi yang nyata” bagi Iran, yang memperkuat narasi kesuksesan di mata opini publik dunia.
Implikasi Politik dari Narasi Kegagalan di Washington
Artikel ini memprediksi bahwa jika narasi “kegagalan perang/kebuntuan” mengakar di Amerika, hal itu akan memiliki konsekuensi domestik yang signifikan:
· Pemilihan tengah masa jabatan: Narasi ini dapat merugikan Partai Republik, dan membantu Partai Demokrat dalam pemilihan bulan November.
· Kepasifan strategis: Penulis memperingatkan bahwa Amerika yang terluka oleh perang mungkin akan bertindak lebih pasif terhadap tindakan Iran selanjutnya (termasuk kemajuan dalam program nuklirnya).
