Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Dukungan Runtuh, Publik AS Ragukan Strategi Perang Trump terhadap Iran

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, gelombang ketidakpuasan publik di Amerika Serikat kian menguat seiring berlarutnya perang melawan Iran yang digagas oleh Presiden Donald Trump. Jajak pendapat terbaru mengungkap realitas yang kontras dengan narasi resmi Gedung Putih. Dukungan publik terhadap operasi militer tersebut tetap rendah, sementara keraguan atas arah strategi semakin meluas.

Survei yang dilakukan oleh POLITICO menunjukkan bahwa tujuh minggu sejak agresi militer dimulai, mayoritas pemilih Amerika menilai Trump tidak memiliki strategi yang jelas. Persepsi ini mencerminkan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap klaim Pemerintah bahwa operasi militer tersebut memiliki tujuan yang terukur dan dapat dicapai.

Angka dukungan terhadap aksi militer juga menunjukkan stagnasi. Hanya sekitar 38 persen responden yang menyatakan dukungan terhadap serangan terhadap Iran, sebuah angka yang nyaris tidak berubah sejak fase awal agresi gabungan AS-Israel. Hal ini terjadi meskipun Pemerintah terus menggencarkan pesan publik untuk membenarkan intervensi tersebut.

Lebih jauh, mayoritas responden menilai perang tersebut tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika. Bahkan, sebagian besar menyatakan keraguan apakah tujuan perang pernah dirumuskan secara jelas. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan oposisi, tetapi juga merembet ke basis pemilih Trump sendiri.

Survei tersebut juga menyoroti persepsi bahwa Trump terlalu fokus pada konflik luar negeri dibandingkan persoalan domestik. Hampir separuh responden menganggap perhatian Pemerintah terhadap isu internasional mengorbankan kebutuhan dalam negeri, termasuk persoalan ekonomi yang masih menjadi perhatian utama warga.

Dalam konteks ini, sekitar 41 persen responden menyatakan bahwa Trump tidak memiliki rencana konkret untuk mengakhiri perang. Angka ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan stagnasi kepercayaan publik. Hanya 15 persen yang percaya bahwa tujuan perang telah tercapai, sementara sekitar 40 persen lainnya meyakini bahwa tujuan tersebut tidak akan pernah terwujud atau bahkan tidak pernah didefinisikan dengan jelas.

Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih menyatakan bahwa Pemerintah tetap menjalankan dua jalur sekaligus yaitu tekanan militer dan diplomasi. Juru Bicara Pemerintah, Kush Desai mengeklaim bahwa upaya diplomatik dengan Iran terus berlangsung bersamaan dengan agenda ekonomi domestik yang disebut masih menjadi prioritas.

Ia juga menegaskan bahwa gangguan jangka pendek, termasuk gejolak pasar energi, akan segera mereda. Menurutnya, masyarakat Amerika dapat mengharapkan perbaikan ekonomi setelah situasi stabil. Namun, klaim ini belum sepenuhnya meyakinkan publik yang mulai merasakan dampak langsung dari perang tersebut.

Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian pendukung Trump tetap mempertahankan kepercayaan mereka. Sekitar 27 persen responden percaya bahwa Trump memiliki rencana untuk mengakhiri perang, sementara sebagian lainnya meyakini bahwa meskipun tidak jelas, langkah Trump pada akhirnya akan membawa hasil.

Di kalangan basis pemilihnya, dukungan relatif masih bertahan, meskipun lebih dari sepertiga mengakui bahwa strategi yang jelas belum terlihat. Menariknya, banyak dari mereka tetap optimistis bahwa tujuan akhir akan tercapai, mencerminkan loyalitas politik yang masih kuat di tengah ketidakpastian.

Di sisi lain, pernyataan Trump sendiri dinilai semakin menambah kebingungan. Dalam wawancara dengan Fox Business, ia menyebut perang bisa segera berakhir jika pihak Iran “bersikap cerdas”. Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal yang tidak konsisten dengan perkembangan di lapangan.

Selain itu, Trump juga memberikan pernyataan yang berubah-ubah terkait dampak ekonomi perang. Ia sempat menyebut harga energi bisa tetap stabil atau sedikit naik, namun kemudian menyatakan kemungkinan penurunan signifikan dalam waktu dekat, menciptakan ketidakpastian di pasar.

Sementara itu, Pemerintah AS terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran, termasuk melalui kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi lonjakan harga energi global, meskipun pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial sempat menurunkan harga minyak.

Di ranah politik domestik, Partai Republik secara terbuka masih menunjukkan dukungan terhadap Trump. Namun, kekhawatiran mulai muncul bahwa konflik berkepanjangan dapat menjadi beban politik menjelang pemilihan, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup yang dirasakan pemilih.

Seorang analis politik, Roe mencatat meningkatnya frustrasi publik terhadap janji berulang bahwa perang akan segera berakhir. Ia menilai masyarakat mulai kehilangan kesabaran terhadap narasi yang tidak kunjung terealisasi.

Dengan dinamika yang terus berkembang, perang ini tidak hanya menjadi ujian bagi kebijakan luar negeri Washington, tetapi juga bagi legitimasi politik domestik Trump. Di tengah tekanan global dan domestik, arah konflik ke depan masih diselimuti ketidakpastian yang kian dalam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *