Teheran Tarik Garis Merah: Tak Ada Tawar-Menawar, Tak Akan Mundur di Meja Negosiasi
POROS PERLAWANAN — Sekretariat Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menegaskan delegasi perunding Iran tidak akan memberikan “sejengkal pun” konsesi dalam proses negosiasi untuk mengakhiri agresi terbaru terhadap negara itu.
Mengutip Al-Alam, pada Minggu 19 April, dalam pernyataan resmi tentang perkembangan terakhir perundingan, Dewan menyatakan delegasi Iran akan mempertahankan penuh kepentingan nasional serta “darah para syuhada”, termasuk korban dari kalangan para Pemimpin Revolusi Islam yang gugur dalam perang.
Pernyataan itu menyebut bahwa setelah apa yang diklaim sebagai kekalahan pihak penyerang di medan militer, sejak hari ke-10 perang muncul pesan dan permintaan dari Amerika Serikat untuk gencatan senjata dan negosiasi guna mengakhiri perang yang dimulai oleh Washington.
Iran menyatakan baru menyetujui pembicaraan pada hari ke-40 perang, setelah Presiden AS secara resmi menerima rencana 10 poin yang diajukan Teheran sebagai kerangka negosiasi. Perundingan kemudian digelar di Islamabad dengan mediasi Pakistan.
21 Jam Tanpa Hasil
Negosiasi berlangsung selama 21 jam tanpa jeda. Delegasi Iran mengajukan tuntutan dengan “keseriusan dan inisiatif tinggi”, meski dalam kondisi “ketidakpercayaan maksimum” terhadap AS.
Meski sebelumnya pihak lawan menyetujui kerangka 10 poin Iran, selama perundingan mereka disebut mengajukan tuntutan baru yang dinilai berlebihan. Delegasi Iran menolak keras dan menegaskan tidak akan mundur dari posisinya.
Putaran ini berakhir tanpa hasil konkret dan ditunda hingga pihak lawan menyesuaikan tuntutan dengan “realitas lapangan di hadapan Iran yang menang”.
Dalam perkembangan terbaru, Iran mengonfirmasi adanya proposal baru dari pihak AS yang disampaikan melalui mediasi Militer Pakistan di Teheran. Proposal tersebut masih dalam tahap kajian dan belum mendapat respons resmi.
Syarat Gencatan Senjata dan Selat Hormuz
Iran menetapkan syarat utama gencatan senjata sementara berupa penghentian tembakan di seluruh front, termasuk di Lebanon. Teheran menilai Israel telah melanggar ketentuan tersebut sejak awal melalui serangan ke Lebanon dan Hizbullah.
Menurut pernyataan itu, tekanan Iran memaksa Israel menerima gencatan senjata di Lebanon. Dalam skema yang disepakati, Iran akan membuka Selat Hormuz secara terbatas selama masa gencatan senjata, khusus untuk kapal dagang—bukan kapal militer atau kapal sipil milik negara yang dianggap bermusuhan.
Akses tersebut berada di bawah pengawasan penuh Militer Iran, termasuk pengaturan jalur pelayaran, verifikasi data kapal, serta penerbitan izin lintas sesuai ketentuan perang. Biaya layanan keamanan, keselamatan, dan perlindungan lingkungan juga akan diberlakukan.
Iran menegaskan sebagian besar suplai logistik ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk bergantung pada jalur Hormuz. Karena itu, kontrol terhadap lalu lintas kapal dinilai sebagai bagian dari menjaga keamanan nasional.
Teheran memperingatkan bahwa setiap upaya blokade laut atau gangguan terhadap pelayaran akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan berujung pada penutupan kembali akses terbatas Selat Hormuz.
Mobilisasi Publik dan Konsolidasi Internal
Di akhir pernyataan, Dewan menekankan pentingnya dukungan publik untuk mengunci capaian militer dan keberhasilan diplomatik. Warga diminta tetap hadir di ruang publik, sementara aparat, media, dan aktor politik didorong menjaga kewaspadaan serta persatuan nasional.
“Delegasi Iran tidak akan melakukan tawar-menawar, mundur, atau menyerah dalam bentuk apa pun,” demikian penegasan kunci dalam pernyataan tersebut.
