Al-Houthi Peringatkan Gencatan Senjata Rawan Runtuh, Siap Dukung Iran Jika Diserang AS-Israel
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Ansharullah, Abdul-Malik al-Houthi memperingatkan potensi runtuhnya gencatan senjata di Kawasan dan menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bersikap netral jika Iran menjadi target serangan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidato yang disampaikan pada Selasa malam 21 April, al-Houthi menilai kondisi gencatan senjata saat ini berada dalam fase rapuh dan mendekati akhir, dengan potensi eskalasi yang tetap tinggi. Ia menegaskan bahwa Kelompoknya akan terlibat langsung jika konflik kembali terbuka.
“Kami tidak akan bersikap netral terhadap agresi apa pun yang menargetkan Iran. Sikap kami jelas,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa konfrontasi dengan Israel dan sekutunya merupakan bagian dari dinamika konflik yang berkelanjutan.
Ia menyebut bahwa meskipun ketenangan sementara berlanjut, putaran konflik berikutnya dinilai tidak terelakkan. Menurutnya, kondisi saat ini lebih mencerminkan jeda taktis ketimbang penyelesaian permanen.
Al-Houthi juga menanggapi kritik terhadap Hizbullah di Lebanon dengan menyatakan bahwa respons terhadap Kelompok tersebut merupakan reaksi atas rangkaian serangan yang berlangsung dalam periode panjang.
Berkaitan dengan operasi “Badai Al-Aqsa”, ia menggambarkannya sebagai respons atas tekanan berkepanjangan terhadap rakyat Palestina. Ia juga menuding bahwa narasi seperti “perubahan Timur Tengah” dan “kontra-terorisme” digunakan untuk membenarkan tindakan militer terhadap Kawasan.
Dalam pidatonya itu, al-Houthi menyoroti peran media yang menurutnya membentuk persepsi publik secara tidak seimbang, membesar-besarkan kekuatan lawan sekaligus meremehkan respons Kelompok Perlawanan.
Ia juga mengkritik kondisi di wilayah Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat, dengan menyebut adanya pelanggaran berkelanjutan yang tidak mendapat respons setara dari komunitas internasional.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya tensi regional di tengah ketidakpastian arah gencatan senjata, serta mempertegas posisi Kelompok Houthi dalam konstelasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
