Jenderal Israel Soroti Dampak Perang di Luar Sektor Militer, Kalangan Profesional dan Tenaga Ahli Cenderung Pilih Bermigrasi
POROS PERLAWANAN — Mantan Jenderal Militer Israel, Yisrael Ziv memperingatkan kondisi serius yang melanda Militer dan masyarakat Israel menjelang tahun ketiga konflik yang ia sebut sebagai “perang atrisi terpanjang sejak Operasi Badai Al-Aqsa”.
Dalam pernyataan yang dikutip Fars News Agency pada Sabtu 25 April, Ziv mengungkap tanda kelelahan yang kian nyata di tubuh Militer. Indikasinya terlihat dari meningkatnya ketidakpatuhan terhadap perintah serta lonjakan pengunduran diri di kalangan perwira tetap. Kondisi ini mencerminkan krisis mendalam pada sumber daya manusia dan kesiapan tempur.
Ziv menilai dampak konflik telah meluas ke luar sektor militer. Tekanan kini merambah ekonomi dan sosial, sekaligus memperlebar jarak antara narasi resmi pemerintah dan situasi di lapangan.
Ia juga menyoroti meningkatnya keinginan warga Israel untuk bermigrasi, termasuk dari kalangan profesional dan tenaga ahli. Fenomena ini dinilai sebagai sinyal melemahnya kepercayaan publik terhadap arah kebijakan negara.
Menurut Ziv, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu memahami tingkat keparahan situasi. Namun, ia menilai pemerintah justru memilih memperluas konflik demi mempertahankan posisi politik, terutama menjelang Pemilu dan meningkatnya desakan pembentukan komite penyelidikan resmi.
Ziv menyebut peluang penyelesaian konflik di Lebanon dan Gaza dalam waktu dekat sangat kecil. Pemerintah, kata dia, cenderung melanjutkan operasi militer dan mempromosikan penguasaan zona penyangga sebagai capaian strategis, meski berisiko mempercepat kelelahan dan melemahkan kemampuan tempur Militer.
