Iran Kunci Negosiasi dengan Skema Tiga Fase: Dari Gencatan Senjata hingga Selat Hormuz, Barat Dipaksa Ikuti Irama Teheran
POROS PERLAWANAN – Di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat di Asia Barat, Iran kembali menegaskan garis politiknya dengan mengajukan kerangka negosiasi berlapis yang sarat pesan kedaulatan. Berdasarkan laporan Al Mayadeen, Teheran kini hanya bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat apabila Washington menerima skema tiga fase yang telah dirumuskan secara strategis. Langkah ini mencerminkan perubahan dari posisi defensif menuju ofensif dalam arena diplomasi regional.
Media tersebut mengungkap bahwa Iran tidak lagi bersedia memasuki meja perundingan tanpa jaminan keamanan yang jelas. Dalam laporan itu ditegaskan bahwa kelanjutan dialog hanya mungkin terjadi apabila Washington menerima struktur bertahap yang telah dirancang Teheran. Ini menandakan bahwa Iran berupaya menggeser keseimbangan negosiasi agar tidak lagi didominasi tekanan sepihak dari Barat.
Tahap pertama dalam skema tersebut difokuskan pada penghentian agresi militer serta pemberian jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap Iran maupun sekutunya, termasuk Lebanon. Pendekatan ini menempatkan isu keamanan sebagai fondasi utama. Teheran secara tegas menolak membahas isu lain sebelum fase ini tercapai, menunjukkan bahwa stabilitas merupakan prasyarat mutlak, bukan sekadar bagian dari kompromi.
Setelah fondasi keamanan terbentuk, tahap kedua akan beralih pada pengelolaan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Iran mengusulkan kerja sama regional, khususnya dengan Oman, guna membangun kerangka hukum baru yang mengatur keamanan dan lalu lintas maritim. Langkah ini menegaskan bahwa negara-negara Kawasan memiliki kapasitas untuk mengelola wilayahnya sendiri tanpa intervensi kekuatan asing.
Baru pada tahap ketiga, Iran membuka kemungkinan pembahasan berkaitan dengan program nuklirnya. Isu yang selama ini dijadikan alat tekanan oleh Barat tersebut sengaja ditempatkan di akhir, sebagai bentuk penegasan bahwa hak strategis Iran tidak akan dinegosiasikan sebelum tercipta kepercayaan dan stabilitas yang nyata.
Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi tengah menggerakkan diplomasi intensif lintas kawasan. Dalam kunjungannya ke Oman, ia menegaskan prinsip utama kebijakan luar negeri Iran dengan menyatakan, “tetangga kami adalah prioritas kami”. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi dari strategi regional yang semakin terstruktur.
Dalam pertemuannya di Muscat dengan Sultan Haitham bin Tariq, Araghchi mempresentasikan apa yang ia sebut sebagai “kerangka kerja yang bisa diterapkan” guna mengakhiri konflik secara permanen. Oman, yang selama ini memainkan peran sebagai mediator, kembali menjadi simpul penting dalam upaya de-eskalasi. Araghchi bahkan menyampaikan apresiasinya terhadap peran Muscat dalam memfasilitasi dialog.
Isu Selat Hormuz kembali menjadi sorotan utama dalam pembicaraan tersebut. Araghchi menegaskan bahwa stabilitas Kawasan harus dijamin oleh negara-negara pesisirnya sendiri. Ia menekankan bahwa “transit maritim yang aman harus melayani kedua negara regional dan ekonomi global”, sekaligus mengirim pesan bahwa kehadiran Militer asing bukanlah solusi, melainkan sumber instabilitas.
Langkah diplomatik Iran juga menjangkau aktor-aktor regional dan internasional lainnya. Dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, Araghchi memaparkan inisiatif terbaru Teheran untuk mengakhiri perang dan meredakan ketegangan. Sementara itu, dalam dialog dengan Perdana Menteri sekaligus Menlu Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dibahas jalur diplomatik yang dapat mempercepat resolusi krisis.
Doha, dalam hal ini, menyambut positif pendekatan Iran dan menyatakan kesiapan untuk terus berperan sebagai mediator aktif. Di sisi lain, komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot menunjukkan bahwa Iran tetap membuka ruang bagi Eropa, selama pendekatan yang diambil tidak bersifat hegemonik.
Rangkaian diplomasi ini berlanjut dengan kunjungan Araghchi ke Moskow, di mana ia dijadwalkan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pertemuan tersebut akan membahas perkembangan terbaru tentang negosiasi dan upaya gencatan senjata, sekaligus memperkuat koordinasi strategis antara Teheran dan Moskow.
Dengan pendekatan bertahap, kutipan-kutipan tegas, dan diplomasi regional yang intensif, Iran tampak sedang membangun ulang peta kekuatan di Kawasan. Di tengah tekanan dan narasi dominan Barat, Teheran memilih jalur yang berbeda: mengunci keamanan, memperkuat solidaritas regional, dan menegaskan bahwa masa depan Asia Barat harus ditentukan oleh rakyat dan negara di dalamnya, bukan oleh kekuatan yang datang dari luar.
