Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Richard Wolff: Perang dengan Iran Jadi ‘Napas Terakhir’ Kekaisaran Amerika

POROS PERLAWANAN — Ekonom Amerika, Richard D. Wolff menilai bahwa jika Amerika Serikat benar-benar berperang dengan Iran, itu bukanlah tanda kekuatan, melainkan “napas terakhir” dari sebuah kekaisaran yang sedang merosot.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Minggu malam 26 April, Wolff menyebut potensi konflik dengan Iran sebagai cermin keputusasaan Washington di tengah menurunnya posisi global Amerika. Menurutnya, dominasi AS yang terbangun pasca-Perang Dunia II kini memasuki fase akhir.

Wolff mengatakan bahwa kegagalan Amerika di Vietnam, Afghanistan, dan Irak telah menunjukkan keterbatasan kekuatan Militer AS. Dinamika konflik global saat ini, tambahnya, memperlihatkan pola yang serupa.

Ia juga mengkritik kebijakan Pemerintahan Donald Trump, baik di bidang perang maupun penerapan tarif perdagangan global. Kebijakan-kebijakan itu, menurut Wolff, mencerminkan respons yang tidak stabil terhadap tekanan struktural yang dihadapi AS.

Dalam analisis ekonominya, Wolff menyoroti pertumbuhan China yang selama tiga dekade terakhir secara konsisten melampaui Amerika. Kesenjangan ini, ujarnya, menjadi sumber kekhawatiran utama di kalangan elite Washington.

Wolff juga memaparkan kondisi fiskal AS. Utang nasional Amerika telah melampaui 39 triliun Dolar, dengan defisit tahunan yang diperkirakan tetap tinggi.

Menurutnya, ada kontradiksi mendasar dalam cara Amerika membiayai perangnya. Washington disebut mendanai operasi militer melalui pinjaman dari negara lain, termasuk China, Jepang, dan negara-negara Teluk. Pola ini, kata Wolff, justru memperdalam krisis dan meningkatkan ketergantungan strategis AS.

Di bagian lain, Wolff menyoroti peran kompleks industri militer. Menurutnya, sektor ini tetap diuntungkan dari konflik, baik AS menang maupun kalah. Keuntungan utama berasal dari siklus penggantian persenjataan: semakin panjang dan intens konflik, semakin besar keuntungan yang diraih perusahaan pertahanan.

Wolff menambahkan bahwa peningkatan otomatisasi di sektor ini tidak diikuti dengan penciptaan lapangan kerja, dan justru berpotensi memperburuk kondisi ekonomi domestik.

Secara keseluruhan, analisis Wolff menempatkan wacana perang dengan Iran dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari pergeseran struktur kekuatan global yang sedang berlangsung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *