Hamas: Israel Kuasai Lebih dari 62 Persen Gaza, Lampaui Batas Kesepakatan Gencatan Senjata
POROS PERLAWANAN – Pejabat senior Hamas menyatakan pasukan Israel memperluas kontrol wilayah di Jalur Gaza melampaui batas yang ditetapkan dalam gencatan senjata Oktober 2025. Pernyataan ini disampaikan Anggota Biro Politik Hamas, Bassem Naim, pada Minggu 3 Mei yang dilaporkan Press TV.
Menurut Naim, Israel menggeser garis batas baru yang disebut “garis oranye” sejauh 8 hingga 9 persen ke dalam wilayah Palestina. Langkah itu disebut meningkatkan area yang berada di bawah kendali Israel menjadi lebih dari 62 persen, sementara warga Palestina tersisa di sekitar 38 persen wilayah yang telah lama diblokade.
Ia menilai perluasan tersebut mempersempit ruang hidup warga dan memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berat. Sebelumnya, Israel menetapkan “garis kuning” sebagai batas penempatan Militer pada fase awal gencatan senjata.
Sumber lokal melaporkan penanda Militer Israel terus digeser lebih dalam ke wilayah Gaza, yang secara efektif mengubah batas di lapangan. Perkembangan ini memicu gelombang pengungsian baru, terutama di Khan Yunis, Gaza City bagian timur, dan wilayah utara Gaza.
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric mengonfirmasi adanya batas baru tersebut. Ia menyebut Israel memperkenalkan garis tambahan di luar “garis kuning” yang kini dikenal sebagai “garis oranye” oleh tim kemanusiaan.
“Ada garis baru yang diperkenalkan kepada tim kemanusiaan kami,” kata Dujarric. Ia menambahkan setiap pergerakan melampaui garis tersebut harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan otoritas Israel.
Dalam kesepakatan gencatan senjata, “garis kuning” awalnya dimaksudkan memisahkan zona kehadiran Militer Israel di timur dengan wilayah tempat warga Palestina dapat bertahan di barat, mencakup sekitar 53 persen wilayah. Namun sumber Palestina menyebut batas itu terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir.
Alih-alih menarik diri sesuai kesepakatan, pasukan Israel disebut terus memperluas penguasaan wilayah. Bagi warga Palestina, lapisan batas baru ini mempersempit ruang hidup dan mengubah kondisi keseharian di Gaza.
Lebih dari dua juta penduduk kini terdesak di area yang semakin sempit di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan dan pembatasan yang berlanjut. Sejumlah analis memperingatkan batas-batas baru tersebut berisiko menjadi kenyataan permanen di lapangan.
Kepala Militer Israel, Eyal Zamir, sebelumnya menyebut “garis kuning” sebagai batas baru. Pada Maret lalu, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyatakan lebih dari setengah wilayah Gaza telah berada di bawah kendali Israel.
Sejak gencatan senjata berlaku, Israel juga berulang kali melanggar kesepakatan, dengan korban tewas dan luka di pihak Palestina terus bertambah. Perjanjian tersebut sebelumnya dimaksudkan menghentikan konflik dua tahun yang menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan kerusakan luas infrastruktur sipil di Gaza.
