Hormuz Tertutup, UEA Terpaksa Pindah ke Timur: Pelabuhan Khorfakkan Melonjak 7.000 Truk per Hari
POROS PERLAWANAN — Penutupan Selat Hormuz yang memasuki bulan kedua mulai memaksa Uni Emirat Arab melakukan reposisi besar pada jalur logistik dan distribusi energinya.
Laporan Energy This Week yang dikutip Fars News Agency pada Kamis (7/5/2026) menyebut lalu lintas kapal dagang di Hormuz praktis lumpuh di tengah meningkatnya ketegangan militer kawasan.
Sejumlah kapal dilaporkan mulai mematikan sistem GPS selama melintasi kawasan konflik untuk menghindari pemantauan dan risiko keamanan.
Situasi tersebut terjadi di tengah kegagalan operasi Amerika Serikat untuk memulihkan jalur pelayaran internasional di Hormuz. Hingga kini, salah satu jalur energi terpenting dunia itu masih berada dalam kondisi sangat terbatas.
UEA Geser Pusat Distribusi ke Laut Oman
Di bawah tekanan krisis, UEA mempercepat aktivasi infrastruktur logistik di wilayah timurnya yang menghadap langsung ke Laut Oman.
Pelabuhan Khorfakkan kini berubah menjadi pusat transit utama negara tersebut. Operator pelabuhan, Gulftainer, melaporkan lonjakan ekstrem arus kendaraan logistik. Jika sebelum konflik jumlah truk yang melintas berkisar 100 unit per hari, maka pada pekan pertama perang angkanya melonjak menjadi sekitar 7.000 truk per hari.
Lonjakan hingga 70 kali lipat itu mendorong pembangunan jalur distribusi baru serta pembukaan koridor darat menuju kawasan industri Saja’a.
UEA juga mulai mempercepat pembangunan pelabuhan kering di Al Dhaid guna menopang distribusi logistik nasional di tengah terganggunya jalur laut utama.
Jalur Darat dan Rel Jadi Tulang Punggung Baru
Di saat akses laut mengalami tekanan berat, transportasi darat dan rel mulai mengambil peran strategis. Etihad Rail mencatat pengangkutan sekitar 459 ribu ton barang hanya dalam dua pekan pertama krisis.
Data tersebut memperlihatkan bagaimana jalur darat kini tidak lagi menjadi sekadar alternatif, melainkan berubah menjadi fondasi utama rantai pasok regional ketika akses maritim terganggu.
Iran Perluas Pengawasan di Sekitar Hormuz
Laporan yang sama juga menyebut Iran meningkatkan pengawasan militernya di sekitar Hormuz setelah pernyataan Presiden Donald Trump mengenai rencana membuka kembali jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Akibat perluasan pengawasan itu, dua titik strategis UEA di luar Hormuz, yakni Pelabuhan Fujairah dan Pelabuhan Khorfakkan, disebut ikut berada dalam jangkauan kontrol Iran.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dampak konflik Hormuz telah melampaui isu keamanan energi semata.
Krisis tersebut kini mulai mengubah struktur logistik, pola distribusi perdagangan, dan arsitektur rantai pasok di kawasan Teluk secara mendasar.
Jika situasi berlanjut, negara-negara Teluk kemungkinan akan dipaksa mempercepat pembangunan koridor darat dan pelabuhan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jalur laut strategis yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
