Analis Arab Bongkar Proyek Pelucutan Hizbullah di Balik Agenda Perdamaian Lebanon-Israel
POROS PERLAWANAN — Upaya Amerika Serikat mendorong normalisasi hubungan Lebanon dengan Israel memunculkan kekhawatiran baru di kalangan analis politik kawasan. Putaran terbaru perundingan Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung Kamis dan Jumat mendatang di Washington disebut bukan semata membahas perdamaian, melainkan terkait proyek pelucutan senjata Hizbullah.
Analis senior dunia Arab, Abdel Bari Atwan, dalam analisis pada Sabtu (9/5/2026) di situs Raialyoum, menilai pertemuan yang berlangsung di bawah pengawasan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat itu sebagai salah satu fase paling berbahaya dalam hubungan Lebanon-Israel.
Menurut Atwan, tujuan utama perundingan tersebut bukan hanya mencapai kesepakatan damai antara Beirut dan Tel Aviv, tetapi membentuk aliansi keamanan yang menempatkan Lebanon dalam pengaruh permanen Israel.
Media penyiaran Israel sebelumnya melaporkan bahwa Tel Aviv tengah mengupayakan pembentukan gugus kerja bersama guna mengawasi pelaksanaan proyek pelucutan dan pembubaran Hizbullah, termasuk pembahasan terkait penataan ulang perbatasan antara Lebanon dan wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebelumnya menyatakan perundingan itu bertujuan membangun kerangka “perdamaian dan keamanan berkelanjutan”, mengembalikan kedaulatan penuh Lebanon, menyelesaikan persoalan perbatasan, serta membuka jalur bantuan dan rekonstruksi. Namun, dalam pernyataan tersebut juga ditegaskan bahwa perdamaian menyeluruh bergantung pada pelucutan total senjata Hizbullah.
Atwan menilai keterlibatan tokoh militer Israel dalam perundingan memperkuat dugaan adanya agenda bersama Amerika Serikat dan Israel untuk menghapus pengaruh militer maupun politik Hizbullah di Lebanon. Delegasi militer Israel disebut dipimpin oleh Jenderal Amichai Levin, yang disebut sebagai salah satu perancang operasi militer Israel terhadap Hizbullah.
Ia juga menyoroti kunjungan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, ke Suriah dan pertemuannya dengan Abu Mohammad al-Jolani di Damaskus. Menurut Atwan, langkah tersebut merupakan bagian dari proyek Amerika-Israel untuk melucuti Hizbullah sebagai kekuatan utama perlawanan di Lebanon.
Atwan menuduh Salam berupaya melibatkan pasukan Suriah di bawah pemerintahan Julani bersama tentara Lebanon dan Israel dalam proyek pelucutan senjata Hizbullah. Ia juga menyebut Salam termasuk tokoh yang paling mendukung integrasi Lebanon ke dalam skema normalisasi dengan Israel melalui Perjanjian Abraham.
Kantor berita Suriah SANA melaporkan bahwa Salam dan Jolani membahas penguatan hubungan bilateral, kerja sama ekonomi dan perdagangan, serta peningkatan koordinasi keamanan guna menjaga stabilitas kawasan dan menghadapi tantangan bersama.
Atwan menilai pemerintah Lebanon saat ini tengah bergerak menuju aliansi penuh dengan Israel. Namun menurutnya, Hizbullah dan basis sosial-politiknya tetap menjadi penghalang utama terhadap proyek yang disebutnya bertujuan mengubah Lebanon menjadi wilayah yang sepenuhnya berada dalam orbit Israel dan terlepas dari lingkungan Arab serta Islam.
Atwan menegaskan bahwa Hizbullah telah melakukan reorganisasi pasukan pascaperang dan meningkatkan kemampuan persenjataan serta rudalnya. Menurutnya, kelompok itu selama hampir satu setengah tahun menahan diri dari merespons lebih dari 8.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak November 2024 demi menyelesaikan persiapan militer untuk konfrontasi berikutnya.
Atwan juga menyebut Hizbullah menjalankan “strategi diam” untuk mengecoh Israel. Ia mengklaim drone bunuh diri siluman dan sistem persenjataan baru Hizbullah kini menjadi ancaman serius bagi Israel, termasuk di wilayah Galilea, Haifa, dan Tel Aviv.
Di akhir analisisnya, Atwan menegaskan bahwa seluruh upaya pelucutan senjata Hizbullah akan gagal dan kelompok tersebut tidak akan menerima gencatan senjata baru tanpa apa yang disebutnya sebagai “kemenangan penuh”.
