Pejabat Irak Ungkap Keterlibatan AS dalam Operasi Rahasia Israel di Gurun Najaf
POROS PERLAWANAN — Seorang pejabat senior di kantor Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia’ Al Sudani mengungkap keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi rahasia Israel di wilayah gurun Najaf, sekitar 80 kilometer dari perbatasan Arab Saudi.
Dalam wawancara dengan media Al-Araby Al-Jadeed pada Senin 11 Mei, pejabat tersebut mengatakan operasi itu berlangsung di bawah perlindungan aktivitas pasukan Amerika Serikat yang tergabung dalam koalisi internasional di Irak.
Pernyataan itu muncul setelah laporan Wall Street Journal mengenai keberadaan “fasilitas rahasia” Israel di gurun Najaf memicu reaksi luas di Irak dan tuntutan publik agar Pemerintah melakukan penyelidikan serta meminta pertanggungjawaban pihak terkait.
Pejabat Irak yang tidak disebutkan namanya itu menilai Baghdad telah “terjebak” oleh Washington.
“Apa yang terjadi bukan karena keunggulan intelijen Israel, melainkan karena bantuan dan perlindungan Amerika Serikat melalui aktivitas koalisi internasional,” katanya.
Menurutnya, keberadaan pasukan Amerika di Irak melalui perjanjian keamanan dimanfaatkan untuk mendukung operasi Israel tanpa sepengetahuan penuh Pemerintah Irak.
Dia juga menyebut Washington melanggar komitmen bilateral dengan Baghdad dan menggunakan hubungan strategis kedua negara untuk kepentingan Israel.
Pejabat tersebut mengatakan insiden bermula pada malam 4 Maret lalu setelah seorang penggembala dari suku Al-Zakareet melaporkan adanya pendaratan helikopter dan pergerakan militer mencurigakan di wilayah gurun Najaf.
Pasukan Irak kemudian melakukan patroli pengintaian menuju lokasi. Namun sekitar empat kilometer sebelum mencapai titik tujuan, mereka disebut mendapat serangan berat dari helikopter tempur.
Satu tentara Irak dilaporkan tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan tersebut sehingga pasukan terpaksa mundur dari lokasi.
Menurut pejabat itu, Baghdad sempat mengirim pesan melalui pusat koordinasi bersama dengan pasukan koalisi internasional, tetapi pihak Amerika tidak memberikan respons maupun penjelasan hingga kini.
“Kami mengirim nota protes kepada pihak Amerika, tetapi Washington tidak membantah maupun memberikan jawaban resmi,” ujarnya.
Pejabat tersebut memperingatkan agar isu itu tidak dibesar-besarkan sebagai keberadaan pangkalan permanen Israel di Irak. Menurutnya, operasi tersebut lebih menyerupai keberadaan sementara dengan dukungan logistik dan perlindungan Amerika Serikat.
Dia menyebut bahwa kelompok tersebut masuk ke Irak melalui wilayah udara Suriah, melintasi gurun Anbar, lalu bergerak menuju Najaf melalui kawasan Al-Habariyah dan Al-Nukhaib sebelum menetap di sebuah lembah terpencil.
Seluruh pergerakan itu, katanya, berlangsung di bawah aktivitas koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat.
Pejabat tersebut juga membuka kemungkinan bahwa beberapa serangan terhadap kelompok bersenjata Irak selama konflik Iran sebelumnya dilakukan oleh jet tempur Israel.
Pemerintah Amerika Serikat maupun Israel hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.
