Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

CNN: Cadangan Minyak Darurat AS Menyusut Cepat di Tengah Krisis Hormuz

POROS PERLAWANAN — Jaringan berita CNN melaporkan cadangan minyak darurat Amerika Serikat menyusut dengan sangat cepat seiring berlanjutnya penutupan Selat Hormuz dan meningkatnya tekanan energi global akibat konflik Kawasan.

Dalam laporan yang dikutip IRNA pada Rabu 13 Mei, CNN menyebut Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tengah menguras cadangan minyak strategis nasional dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan data Pemerintah AS yang dirilis pekan ini, cadangan minyak strategis Amerika turun sekitar 8,6 juta barel hanya dalam satu minggu. Angka itu disebut sebagai penurunan terbesar sejak dekade 1980-an.

Kondisi tersebut membuat cadangan minyak strategis Amerika Serikat berada pada level terendah sejak Oktober 2024.

Trump sebelumnya pernah mengkritik mantan Presiden AS, Joe Biden karena menggunakan cadangan minyak strategis secara besar-besaran. Dalam kampanye Pemilu pada November 2022, Trump menyatakan cadangan nasional yang sebelumnya ia tingkatkan saat itu telah terkuras.

Namun situasi saat ini dinilai jauh lebih serius akibat krisis di Selat Hormuz yang terus berlanjut.

Selain cadangan strategis, stok minyak komersial Amerika juga disebut menyusut cepat karena ekspor minyak AS masih berada di tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

Data Federal menunjukkan cadangan minyak mentah untuk kebutuhan domestik turun 4,3 juta barel dalam sepekan terakhir. Pada saat yang sama, cadangan bensin juga mengalami penurunan hampir serupa dan mencapai titik terendah sejak 2014.

Direktur perdagangan energi berjangka di Mizuho, Bob Yawger mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi situasi yang mengkhawatirkan menjelang musim panas, ketika konsumsi bahan bakar biasanya meningkat tajam.

“Kami menghabiskan cadangan minyak dengan sangat cepat. Kami sedang memasuki musim panas dan penggunaan kendaraan di Amerika meningkat, tetapi situasi kami buruk,” ujarnya.

Yawger memperingatkan bahwa bahkan jika perang berhenti dalam waktu dekat, pasar energi Amerika tetap akan menghadapi tekanan besar.

“Bahkan jika perang berakhir besok, kami tetap tidak memiliki cukup bensin untuk meningkatkan pasokan pasar. Dalam waktu dekat, tidak akan ada lagi bensin seharga 2,5 Dolar per galon di Amerika,” katanya.

Sebelumnya, Reuters juga melaporkan penurunan cepat cadangan bahan bakar Amerika Serikat di tengah lonjakan harga akibat perang melawan Iran dan gangguan di Selat Hormuz telah meningkatkan tekanan ekonomi dan politik terhadap Donald Trump.

Para analis memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut bersamaan dengan puncak permintaan musim panas, harga energi diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Mereka juga mengingatkan bahwa pembatasan ekspor minyak demi menekan harga domestik dapat memicu lonjakan harga global sekaligus melemahkan posisi Amerika Serikat sebagai pemasok energi yang dapat diandalkan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar sepertiga perdagangan minyak laut global melewati kawasan tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah itu menjadi pusat ketegangan setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Teluk Persia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *