China Kuasai Logam Tanah Jarang, Pengamat Sebut Jadi Titik Lemah AS dalam Rivalitas Global
POROS PERLAWANAN — Dominasi China atas logam tanah jarang dinilai menjadi tantangan ekonomi terbesar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam lawatannya ke Beijing. Ketergantungan industri militer Amerika terhadap material strategis tersebut disebut membuat Washington berada dalam posisi rentan di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Ekonom Iran, Hassan Hassankhani mengatakan China saat ini menguasai sekitar 90 persen proses pemurnian logam tanah jarang dunia. Menurut dia, isu tersebut menjadi salah satu agenda paling sensitif dalam pembicaraan Washington dan Beijing.
“Persoalan utama Trump dalam perjalanan ini kemungkinan besar adalah monopoli China atas logam tanah jarang,” kata Hassankhani kepada IRNA pada Rabu 13 Mei.
Ia menjelaskan dominasi China bukan disebabkan unsur tersebut benar-benar langka, melainkan karena proses pemurniannya sangat mahal dan menghasilkan limbah lingkungan berbahaya.
Hassankhani menyebut wilayah Mongolia Selatan di utara China menjadi pusat utama pemurnian logam tanah jarang. Di kawasan itu terdapat danau limbah beracun yang menampung residu radioaktif hasil proses industri.
“Limbah dari proses pemurnian ini bersifat radioaktif dan sangat merusak lingkungan. Banyak negara tidak sanggup menanggung biaya dan dampaknya,” ujarnya.
Menurut Hassankhani, ketergantungan Amerika Serikat terhadap logam tanah jarang China sangat tinggi, terutama untuk sektor militer dan teknologi maju. Ia menyebut jet tempur Lockheed Martin F-35 Lightning II menggunakan ratusan kilogram material tersebut untuk komponen elektronik dan sistem magnetik canggih.
“Bagian penting dari logam tanah jarang digunakan untuk produksi magnet dan perangkat elektronik militer berteknologi tinggi,” katanya.
Ia menilai Trump kemungkinan akan memanfaatkan perang tarif sebagai alat tawar untuk menekan Beijing agar melonggarkan pembatasan ekspor logam tanah jarang terhadap Amerika Serikat.
Iran dan Hormuz Disebut Jadi Keunggulan Strategis Beijing
Hassankhani juga menyinggung isu Iran, Teluk Persia, dan Selat Hormuz dalam persaingan geopolitik Washington-Beijing. Menurut dia, Amerika Serikat sebelumnya berharap tekanan terhadap Iran dapat menjadi kartu strategis untuk melemahkan China.
Namun, ketahanan Iran dalam konflik regional justru dinilai membuat Beijing memperoleh posisi tawar lebih kuat dalam negosiasi dengan Washington.
“Iran memiliki hubungan strategis dengan China dan dapat menjadi faktor penting dalam perimbangan kekuatan antara Beijing dan Washington,” ujarnya.
Ia menegaskan hubungan Iran dan China tidak bersifat subordinatif. Tehran, menurut dia, tetap memiliki independensi politik dan mampu memanfaatkan kemitraan strategis dengan Beijing demi kepentingan nasionalnya sendiri.
Kontrol Hormuz Dinilai Bisa Guncang Dominasi Petrodolar
Hassankhani juga menilai kontrol Iran atas Selat Hormuz berpotensi melemahkan dominasi petrodolar dalam perdagangan energi global.
Menurut dia, apabila Iran mampu memengaruhi jalur distribusi minyak dunia di Hormuz, sistem perdagangan minyak berbasis Dolar AS dapat terganggu. Kondisi tersebut dinilai membuka ruang lebih besar bagi penggunaan Yuan China dalam transaksi energi internasional.
“Jika transaksi minyak tidak lagi bergantung pada Dolar, maka permintaan global terhadap Dolar AS akan menurun dan penggunaan Yuan akan meningkat,” katanya.
Ia menyebut dominasi Dolar merupakan salah satu fondasi utama hegemoni Amerika Serikat. Karena itu, perubahan sistem pembayaran energi global dinilai dapat membuka peluang besar untuk mengurangi efektivitas sanksi ekonomi Washington.
Koridor Utara-Selatan dan Peluang Ekonomi Iran
Selain Selat Hormuz, Hassankhani juga menyoroti pentingnya koridor perdagangan Utara-Selatan yang menghubungkan India, Iran, Rusia, China, dan Eropa.
Menurut dia, apabila Iran menjadi jalur utama perdagangan China-Eropa, negara tersebut dapat memperoleh manfaat ekonomi besar dari sektor transit dan logistik.
“Volume perdagangan China dengan Eropa mencapai sekitar 850 miliar Dolar per tahun. Jika Iran mengambil bahkan 10 persen dari arus perdagangan itu, manfaat ekonominya akan sangat besar,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Hassankhani menegaskan Selat Hormuz bukan sekadar jalur ekonomi, melainkan titik strategis yang dapat memengaruhi perubahan tatanan ekonomi global.
“Selat Hormuz bisa menjadi pusat gravitasi lahirnya tatanan ekonomi baru dunia. Ini isu strategis yang tidak boleh diabaikan dalam diplomasi Iran,” katanya.
