Trump dan Xi Jinping Bertemu di Beijing, Isu Iran hingga AI Jadi Agenda Utama
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing setelah periode hubungan yang diwarnai ketegangan politik, ekonomi, dan militer. Pertemuan tingkat tinggi itu diperkirakan membahas sejumlah isu strategis global, mulai dari perang Iran, Taiwan, perang dagang, hingga persaingan teknologi dan kecerdasan buatan.
Laporan Al Jazeera yang dikutip Mehr News pada Rabu 13 Mei menyebut posisi Washington saat ini tidak sepenuhnya menguntungkan. Amerika Serikat disebut telah menguras sebagian besar stok persenjataannya selama konflik satu setengah bulan dengan Iran. Di saat bersamaan, Trump menghadapi tekanan politik domestik serta penurunan popularitas menjelang Pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.
Pengamat politik menilai Beijing justru memperoleh keuntungan strategis dari situasi tersebut dalam persaingannya dengan Washington. Meski kedua negara menampilkan suasana diplomatik yang lebih hangat di Beijing, peluang tercapainya kesepakatan besar dinilai masih terbatas.
Perang Iran masih berlangsung, ketegangan di Taiwan meningkat, dan perang dagang belum menemukan titik akhir. Pada saat yang sama, energi, semikonduktor, dan logam tanah jarang kini berubah menjadi instrumen geopolitik penting dalam perebutan pengaruh global abad ke-21.
Delegasi Trump dan Kehadiran Korporasi Besar AS
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menjadi salah satu tokoh utama dalam delegasi Trump ke China. Sejumlah CEO perusahaan besar Amerika juga ikut dalam lawatan tersebut, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Tim Cook dari Apple.
Pejabat Gedung Putih menyebut sejumlah eksekutif perusahaan raksasa turut hadir dalam kunjungan itu, antara lain Boeing, General Electric, Goldman Sachs, Visa, Mastercard, Meta, dan Cisco.
Empat Agenda Utama Pertemuan Beijing
1. Ekonomi dan Perang Dagang
Hubungan perdagangan menjadi agenda utama pembicaraan di tengah perang tarif dan pembatasan perdagangan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
China dinilai membutuhkan stabilitas ekonomi global untuk menjaga pertumbuhan domestik di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi dunia. Sementara itu, Trump juga membutuhkan capaian ekonomi menjelang Pemilu sela guna memperkuat posisi Partai Republik di dalam negeri.
2. Iran dan Krisis Selat Hormuz
Krisis Timur Tengah diperkirakan menjadi salah satu fokus utama pertemuan. Washington disebut ingin memanfaatkan pengaruh Beijing terhadap Iran guna membantu meredakan ketegangan di Teluk Persia dan krisis Selat Hormuz.
China merupakan mitra ekonomi dan politik utama Iran serta pembeli terbesar minyak Iran. Penutupan hampir total Selat Hormuz disebut berdampak langsung terhadap kepentingan energi Beijing.
Reuters melaporkan Trump membutuhkan bantuan China untuk menghentikan perang melawan Iran. Sementara The Guardian menilai kondisi tersebut memberi keuntungan diplomatik besar bagi Beijing bahkan sebelum negosiasi resmi dimulai.
3. Taiwan dan Penjualan Senjata
Trump menyatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan bersama Xi Jinping. Namun Kementerian Luar Negeri China menegaskan penolakan “tegas dan tanpa ambigu” terhadap kesepakatan tersebut.
Pada Desember lalu, Trump mengumumkan paket penjualan senjata terbesar AS untuk Taiwan dengan nilai lebih dari 11 miliar Dolar AS.
Media-media Amerika juga menyebut isu Taiwan sebagai prioritas geopolitik utama Beijing. Sejumlah spekulasi bahkan muncul bahwa Washington dapat mengubah pendekatannya terhadap masa depan Taiwan, termasuk kemungkinan menyatakan penolakan eksplisit terhadap kemerdekaan pulau tersebut.
4. Kecerdasan Buatan dan Perang Teknologi
Amerika Serikat dan China juga berupaya mencari titik temu soal teknologi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan atau AI.
Washington terus membatasi akses Beijing terhadap teknologi AI canggih dan chip elektronik berteknologi tinggi. Sebaliknya, China menekan AS agar mencabut pembatasan ekspor chip AI serta membuka akses lebih luas terhadap teknologi penting.
Persaingan kedua negara kini dinilai memasuki fase perebutan “kedaulatan teknologi” yang akan menentukan keseimbangan kekuatan global pada masa depan.
