Gelombang Baru Penangkapan Warnai Tekanan terhadap Warga Syiah Bahrain
POROS PERLAWANAN — Bahrain kembali menjadi sorotan setelah aparat keamanan melancarkan gelombang baru penangkapan, pemanggilan pemeriksaan, dan penggerebekan rumah warga Syiah di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Menurut laporan Al-Ahed yang dikutip Fars News Agency pada Kamis (14/5/2026), aparat keamanan Bahrain memperluas operasi terhadap warga Syiah dalam beberapa pekan terakhir. Langkah tersebut disebut berlangsung melalui pola tekanan keamanan, intimidasi, serta pembatasan terhadap tokoh agama, sosial, dan politik.
Sejumlah warga Bahrain dilaporkan ditahan setelah dipanggil menjalani pemeriksaan keamanan. Mereka antara lain Mohammad Nader, Hussein Yahya, Sayyid Ali al-Gharifi, Sayyid Nasser Mahmoud, Sayyid Abdullah Mohammad, Sayyid Amjad Ahmad, Sayyid Mojtaba Fallah, Mohammad al-Eskafi, Hassan Milad, Yousef Ibrahim, Jassim Marhoon, Sayyid Hassan Khalil, dan Hassan al-Karani.
Laporan tersebut menyebut penangkapan itu menjadi bagian dari operasi keamanan berkelanjutan yang menggunakan pemeriksaan dan interogasi sebagai sarana tekanan terhadap warga.
Otoritas Bahrain juga dilaporkan menangkap Mahmoud Dhaif, Reza Khamis, dan Hussein al-Ghasra setelah melakukan penggerebekan di rumah mereka.
Selain itu, Mulla Ali al-Jardawi dan Mohammad Alian disebut ditahan setelah mengunggah video dukungan terhadap para ulama yang sebelumnya telah ditangkap aparat.
Media Al-Ahed menilai langkah tersebut menunjukkan semakin sempitnya ruang solidaritas publik dan ekspresi damai di Bahrain.
Menurut laporan itu, gelombang penangkapan terbaru muncul setelah pernyataan Menteri Dalam Negeri Bahrain yang dinilai sebagian pihak sebagai sinyal kelanjutan kebijakan keras terhadap komunitas Syiah.
Data yang beredar menyebut jumlah warga yang ditangkap sejak awal krisis telah melampaui 280 orang. Kekhawatiran mengenai dugaan penyiksaan dan perlakuan buruk di pusat interogasi maupun penjara juga meningkat, mengingat rekam jejak pelanggaran HAM di Bahrain yang sebelumnya telah didokumentasikan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional.
Laporan itu turut menyinggung kasus almarhum Sayyid Mohammad al-Mousawi yang disebut meninggal setelah ditahan aparat pada awal perang. Kasus tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap dugaan penyiksaan dan kelalaian di pusat-pusat penahanan Bahrain.
Gelombang operasi keamanan terbaru dinilai menunjukkan pemerintah Bahrain masih mengedepankan pendekatan keamanan dan hukuman kolektif dalam menghadapi ketegangan politik dan sosial yang terus meningkat di negara itu.
