Serangan Brutal Israel Tewaskan 110 Tenaga Medis di Lebanon
POROS PERLAWANAN — Organisasi medis internasional Médecins Sans Frontières (MSF) mengecam serangkaian serangan Israel terhadap tenaga kesehatan di Lebanon setelah sedikitnya 110 paramedis dan petugas medis dilaporkan tewas sejak 2 Maret 2026.
Dalam laporan yang dikutip Press TV pada Sabtu 16 Mei, serangan terbaru Israel disebut menewaskan enam orang, termasuk tiga paramedis, dalam pemboman di wilayah Lebanon.
MSF menyoroti pola serangan “double-tap” yang digunakan Militer Israel, yakni serangan lanjutan yang menyasar tim penyelamat saat tiba di lokasi serangan pertama.
Organisasi tersebut menilai pola itu telah mengganggu secara serius operasi penyelamatan dan layanan medis darurat di Lebanon.
Kepala Misi MSF di Lebanon, Jeremy Ristord menyatakan organisasinya “marah atas pembunuhan paramedis yang hanya menjalankan tugas mereka”.
“Serangan sengaja terhadap layanan kesehatan tidak dapat diterima dan tidak boleh dianggap normal,” kata Ristord.
Data resmi dari Menteri Kesehatan Lebanon, Dr. Rakan Nassereddine menunjukkan sedikitnya 110 paramedis dan tenaga kesehatan tewas sejak Israel memperluas serangan militernya pada awal Maret.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga mencatat 163 serangan langsung terhadap tim penyelamat, termasuk Palang Merah Lebanon, Direktorat Pertahanan Sipil, Asosiasi Kepanduan Islam Risala, dan Organisasi Kesehatan Islam.
Selain korban jiwa, sedikitnya 108 ambulans dan kendaraan pemadam kebakaran dilaporkan hancur total. Sebanyak 16 rumah sakit menjadi sasaran serangan dan empat di antaranya terpaksa menghentikan operasional sepenuhnya.
WHO dan MSF juga mencatat sedikitnya 15 serangan terhadap fasilitas medis terjadi setelah gencatan senjata diumumkan pada 17 April. Serangan-serangan itu menyebabkan 12 tenaga medis tewas dan 21 lainnya terluka.
MSF menegaskan bahwa hukum humaniter internasional memberikan perlindungan khusus terhadap tenaga kesehatan, ambulans, dan fasilitas medis dalam konflik bersenjata.
Organisasi tersebut memperingatkan serangan yang terus berlangsung berpotensi melumpuhkan sistem tanggap darurat Lebanon secara sistematis.
Israel selama ini berdalih dengan menuduh Hizbullah menggunakan fasilitas sipil, termasuk ambulans dan rumah sakit, untuk kepentingan militer. Tuduhan tersebut dibantah Hizbullah maupun para tenaga medis terkait.
Menurut otoritas Lebanon, sedikitnya 2.896 orang tewas dan 8.824 lainnya terluka sejak Israel melancarkan serangan militernya pada 2 Maret 2026.
Militer Israel juga dilaporkan masih menduduki sabuk wilayah Lebanon selatan sejauh lima hingga 10 kilometer dari garis perbatasan dan melarang warga sipil memasuki kawasan tersebut.
