Alasan di Balik Trump Selalu Mundur dari Ancaman dan Sesumbarnya terhadap Iran
POROS PERLAWANAN – Meskipun Iran menganggap dimulainya kembali perang sebagai salah satu opsi yang mungkin terjadi, langkah-langkah mundur beruntun yang berulang kali diambil Amerika Serikat terkait eskalasi ketegangan dengan Teheran mengandung pesan-pesan penting.
Fars melaporkan, dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS dan media telah mengisyaratkan ancaman bahwa perang mungkin akan segera dimulai kembali. Trump merilis peta Iran yang menunjukkan negara itu sedang diserang dari segala sisi oleh AS. Dia mengatakan bahwa dia tidak puas dengan rencana yang diajukan Teheran. Dengan menggambarkan gencatan senjata sebagai sesuatu yang rapuh, dia mengisyaratkan serangan lebih lanjut.
Ancaman tersebut begitu serius. Bahkan muncul spekulasi bahwa serangan akan dimulai pada hari Senin (waktu AS). Pada akhirnya, tadi malam Trump mengeklaim dalam sebuah postingan bahwa ia hampir melancarkan serangan tersebut, tetapi dibujuk untuk “tidak melakukannya atas permintaan negara-negara Arab.”

Dalam insiden sebelumnya, Presiden AS menyatakan bahwa ia akan melancarkan operasi yang disebut “Proyek Kebebasan” untuk mengusir kapal-kapal yang melintas tanpa izin dari Selat Hormuz. Dia menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap terbuka dan blokade laut akan terus berlanjut.
Pada hari pertama proyek tersebut, Militer AS berusaha mengawal kapal-kapal tanker melalui selat tersebut dengan kapal perang mereka. Dalam operasi ini, satu kapal tanker diserang oleh Iran dan dua lainnya berbalik arah.
AS mengeklaim bahwa dua kapal juga berhasil melewati selat tersebut. Bahkan andai klaim ini benar, lewatnya hanya dua dari sekitar 600 kapal di selat tersebut tidak berarti apa pun. Selama operasi yang sama, Iran juga menembaki sebuah kapal perang AS. Proses ini membuat Trump menghentikan rencana Proyek Kebebasan setelah hanya satu operasi.
Sebelumnya, saat gencatan senjata dua minggu mendekati akhir, AS mengeklaim bahwa jika Iran tidak menerima kesepakatan yang diinginkan dalam sisa waktu, AS akan menyerang infrastruktur, termasuk pembangkit listrik. Namun, Iran bahkan tidak menghadiri putaran kedua pembicaraan, apalagi menyetujui kesepakatan. Pada akhirnya, Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak, tanpa batas waktu yang ditentukan.
Sebelum gencatan senjata, Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur jika Iran tidak membuka Selat Hormuz. Ancaman ini diulang dan diperpanjang beberapa kali, tetapi pada akhirnya ia mundur.
Tujuan utama dan awal Amerika Serikat dalam memulai perang ini adalah penggantian Pemerintahan Iran. Trump menggalakkan proyek ini dengan slogan “bantuan sedang dalam perjalanan.” Namun, setelah rencana tersebut gagal, ia mengeklaim bahwa tujuannya sama sekali “bukan penggantian Pemerintahan.”
Presiden AS telah berulang kali mengeklaim telah menghancurkan seluruh kemampuan angkatan laut, udara, dan militer Iran. Namun, setiap kali, ia mengusulkan rencana baru untuk menghancurkan pasukan Iran.
Alasan-alasan Mundurnya Trump
Jalannya perang, yang telah berlangsung sekitar tiga bulan, menunjukkan bahwa AS sejauh ini telah mengusulkan berbagai rencana dan ancaman terhadap Iran. Namun, AS mundur dari sebagian besar rencana tersebut sebelum dapat melaksanakannya, atau meninggalkannya tak lama setelah dilaksanakan.
Alasan di balik hal ini harus dicari dalam tindakan-tindakan khusus yang diambil oleh Iran. Sejak hari pertama, Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke keadaan sebelum perang. Iran memandangnya sebagai garis merah. AS menganggap pendekatan ini hanyalah gertakan dan tidak akan dibawa ke tahap operasional.
Namun, Iran menantang AS terhadap ancaman verbal maupun praktis apa pun untuk membuka Selat Hormuz. Teheran menyerang kapal perang AS yang melakukan agresi. Iran bahkan siap menerima risiko melanggar gencatan senjata secara penuh.
Mengenai penarikan pasukan tadi malam, surat kabar Amerika The New York Times melaporkan, Pentagon telah memperingatkan bahwa Iran, dengan membangun kembali pertahanan udaranya, telah mencapai kemampuan untuk “menghalangi operasi udara AS”. Pentagon pun memaksa Trump untuk menghentikan gelombang serangan baru terhadap Teheran.
Oleh karena itu, alasan utama di balik langkah mundur Washington adalah “perilaku berbasis kekuatan” Teheran serta kegigihannya dalam melindungi kepentingannya sendiri, terutama Selat Hormuz.
Namun, di samping itu, ada alasan lain dari pihak Trump, yaitu “kebingungan.”
Saat ini, Washington dihadapkan pada tiga opsi, yang masing-masing menghadirkan risiko signifikan bagi Trump:
1. Mempertahankan status quo: Para analis Amerika telah memperingatkan bahwa Iran, yang pernah mengalami sanksi sebelumnya, dapat bertahan dalam situasi saat ini. Namun, menipisnya cadangan energi global dan munculnya biaya perang di Eropa dan Amerika tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
2. Menyerang lagi: Dalam rencana untuk memulai kembali perang, AS dan Israel bermaksud menargetkan kemampuan ofensif Iran, yaitu rudal dan drone-nya. Namun, para ahli menilai risiko operasionalnya tinggi, terutama karena dalam konflik sebelumnya, mereka tidak mampu melemahkan kemampuan rudal Iran.
3. Kesepakatan: Teheran telah menyatakan tidak bersedia membuat kesepakatan dengan AS “dengan cara apa pun”. Untuk mencapai titik ini, Washington harus melepaskan tuntutan maksimum, seperti negosiasi mengenai pengeluaran uranium ke luar negeri dan isu rudal. Di sisi lain, AS juga harus menerima kendali Iran atas Selat Hormuz.
Faktanya, Presiden AS benar-benar “pening dan kebingungan” dalam memilih opsi-opsi ini dan menerima risiko dari setiap jalur tersebut. Tanda-tanda praktisnya adalah mundurnya Trump secara beruntun dan berulang kali dari tiap ancaman serta sesumbarnya.
