Sayyid al-Houthi: Sebagian Pihak Belum Ambil Pelajaran dari Konsekuensi Keberadaan Pangkalan AS di Negara Mereka
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Ansharullah Yaman, Sayyid Abdulmalik Badrudin al-Houthi dalam pidatonya pada Senin malam 18 Mei menegaskan, pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan Rezim Zionis terhadap rakyat Palestina setiap hari, tanpa memedulikan Umat Islam, merupakan situasi yang berbahaya.
Diberitakan Fars, al-Houthi menyatakan bahwa rakyat Palestina di Jalur Gaza sedang menghadapi situasi yang sangat tragis akibat pengepungan. Dia menekankan bahwa Palestina adalah garis pertahanan pertama bagi Umat Islam. Jika Musuh Israel berhasil menembusnya, mereka dapat meraih keuntungan strategis di Mesir.
“Seandainya tidak ada Perlawanan Islam di Lebanon, Musuh Israel bisa saja meraih berbagai capaian di Kawasan. Hizbullah, dengan perlawanannya yang patut dicontoh terhadap agresi Zionis, sedang memenuhi kewajiban agamanya dalam segala hal,” tegasnya.
Mengacu pada operasi-operasi heroik Hizbullah yang berdampak besar dan berkelanjutan terhadap Israel, al-Houthi menyatakan bahwa elite penguasa Lebanon harus memanfaatkan operasi Perlawanan tersebut untuk menekan musuh dan memaksanya menghentikan agresi secara total.
Pemimpin spiritual Revolusi Yaman tersebut menyatakan, ada sejumlah pihak yang menerima proyek-proyek Amerika dan Israel, yang mengeklaim bahwa senjata Perlawanan terhadap Pendudukan selalu menjadi masalah utama.
“Pejabat-pejabat Lebanon tidak boleh terpengaruh oleh ilusi Amerika, yang digunakan untuk menipu orang-orang yang naif.”
Sekaitan dengan Suriah, al-Houthi menyatakan bahwa kelompok-kelompok penguasa di sana secara efektif mencari perdamaian dan rekonsiliasi dengan musuh Israel, tetapi hal ini sia-sia.
“Semua orang menyadari niat kelompok-kelompok ini, karena mereka tidak memiliki permusuhan terhadap Israel dan secara terbuka menegaskan hal ini.”
“Israel telah mundur dari wilayah-wilayah yang didudukinya di Suriah dan juga tidak menghentikan agresi-agresinya., Bahkan mereka justru berusaha memperkuat kendalinya atas Suriah selatan serta terus menculik dan membunuh warga Suriah.”
Pemimpin Ansharullah menyatakan, slogan “Perubahan di Timur Tengah” adalah tujuan bersama Amerika dan Israel. Menurutnya, Militer Israel baru-baru ini melakukan latihan yang mensimulasikan serangan mendadak terhadap Mesir dan Yordania.
“Mereka memiliki niat yang jelas terhadap kedua negara tersebut. Proyek ‘Israel Raya’ mencakup sebagian besar negara-negara di Kawasan.”
Ia menambahkan bahwa AS tidak menepati komitmennya. Itulah sebabnya AS bergerak untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, sehingga memengaruhi situasi ekonomi seluruh dunia.
“Bagi Trump, melayani Israel lebih penting daripada apa pun, bahkan daripada Amerika Serikat itu sendiri. Ada tanda-tanda dan indikasi kesiapan Amerika untuk meningkatkan ketegangan setelah kegagalan mereka dalam putaran konflik sebelumnya. Sangat disayangkan bahwa persiapan Amerika dalam hal ini didasarkan pada eksploitasi beberapa negara Arab.”
“Beberapa rezim Arab belum belajar dari pelajaran konflik sebelum ini dan konsekuensinya. Mereka menanggung biaya finansial yang lebih besar untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS tersebut, juga Israel.”
Sembari menegaskan bahwa eskalasi baru apa pun akan memiliki dampak berbahaya bagi Kawasan, al-Houthi mengatakan, “Yaman siap secara militer untuk segala kemungkinan dan tetap teguh pada posisi prinsipilnya, sebagaimana telah berulang kali ditegaskan olehnya.”
“AS adalah negara pertama yang menggunakan senjata nuklir untuk melakukan genosida massal. AS, bersama Israel, harus dilucuti senjatanya, karena mereka menggunakan senjata-senjata tersebut untuk membunuhi orang-orang.”
“Iran secara terbuka menyatakan tidak berupaya memperoleh senjata nuklir. Namun harus dipahami bahwa klaim musuh terkait hal ini hanyalah dalih untuk menargetkan rakyat di Kawasan,” pungkas al-Houthi.
