Diplomat Rusia Pertanyakan ‘Kewarasan’ Senator Radikal AS
POROS PERLAWANAN – Diplomat senior Rusia, Mikhail Ulyanov mencibir logika Senator Amerika Serikat, Lindsey Graham terkait serangan terhadap infrastruktur energi Iran untuk memaksa negara itu duduk di meja perundingan.
Dilansir Fars, Wakil Rusia untuk organisasi-organisasi internasional yang berkedudukan di Wina, Austria, tersebut menanggapi pernyataan Graham tentang Iran pada Selasa 18 Mei kemarin. Senator itu dikenal kerap menyerukan perang dan merupakan pendukung Trump.
Ketika ditanya apakah dia memang menyerukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, Graham dengan enteng menjawab,“Ya, saya ingin melukai rezim ini. Mungkin jika Anda cukup menyakiti mereka, mereka akan bersedia membuat kesepakatan.”

Menanggapi pernyataan tersebut, Ulyanov mencuit: “Tuan ini memiliki ‘pola pikir yang sangat aneh’. Itu jika kita ingin mengutarakannya dengan sopan.”
Sementara itu, Wakil Tetap Rusia di PBB, Vassily Nebenzia pada Selasa malam memprotes kebungkaman organisasi tersebut terkait serangan yang dilancarkan AS dan Rezim Zionis terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr.
Dalam pidatonya pada sidang Dewan Keamanan mengenai situasi di Asia Barat, Nebenzia mengatakan bahwa kebungkaman Sekretaris Jenderal PBB António Guterres terkait serangan terhadap pembangkit Bushehr tidak dapat diterima.
Menurut laporan Kantor Berita Sputnik, ia mengatakan, sangat “membingungkan” bahwa Guterres, yang sebelumnya menyatakan keprihatinan mendalamnya atas serangan di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir di UEA, tidak pernah menganggap perlu untuk bereaksi terhadap berbagai serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr.
“Standar ganda semacam itu dan upaya untuk menutupi pelanggaran hukum internasional yang paling serius dan berbahaya, terutama pada isu yang sangat sensitif ini, sama sekali tidak dapat diterima,” kata diplomat Rusia tersebut.
Menurut laporan tersebut, Nebenzia, yang menyebut serangan AS terhadap fasilitas nuklir Fordo, Natanz, dan Isfahan sebagai tindakan ilegal dan ceroboh, menambahkan, “Jika bukan karena petualangan militer terhadap Iran, hari ini kita tidak akan membahas ancaman yang muncul di Timur Tengah terkait keamanan nuklir atau radiasi.”
