Aksi Ukraina Serang Asrama Mahasiswa Bikin Rusia Murka
POROS PERLAWANAN – Wakil Tetap Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia menyatakan bahwa negosiasi dengan Rezim Ukraina tidak mungkin dilakukan setelah serangan drone Ukraina terhadap asrama mahasiswa di Luhansk.
Fars melaporkan bahwa Nebenzia berbicara di Dewan Keamanan PBB setelah serangan drone Ukraina terhadap asrama sebuah perguruan tinggi di Starobilsk, di Republik Rakyat Luhansk pada malam hari (saat para mahasiswa sedang tidur).
“Serangan yang disengaja terhadap fasilitas sipil tempat anak-anak belajar dan tinggal ini, yang dilakukan pada malam hari ketika asrama penuh dengan mahasiswa, jelas bertujuan untuk memaksimalkan jumlah korban,” kata Nebenzia.
“Serangan ini mengungkap sifat tak berperikemanusiaan Kyiv dan menegaskan bahwa Ukraina, dengan dukungan Barat, secara aktif merusak proses perdamaian apa pun,” imbuhnya.
Nebenzia menegaskan bahwa negosiasi dengan Ukraina tidak mungkin dilakukan setelah serangan ini.
Menurut pemberitaan Reuters, pejabat Rusia mengumumkan pada Jumat 22 Mei bahwa setidaknya empat orang tewas dan 35 anak terluka dalam serangan drone Ukraina ke sebuah asrama mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di wilayah Luhansk, Ukraina timur, yang dikuasai Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin telah memerintahkan Kementerian Pertahanan negara itu untuk menyusun proposal sebagai tanggapan atas serangan Militer Ukraina terhadap perguruan tinggi dan asramanya di kota Starobilsk.
