Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Untuk Kesekian Kali, Petinggi Intelijen AS yang Berbeda Pendapat dengan Trump Soal Iran, Pilih Undur Diri

POROS PERLAWANAN – Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard yang secara efektif memimpin 17 Badan Intelijen negara tersebut, telah mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat 22 Mei.

Menurut laporan Fars, alasan pengunduran diri tersebut belum diungkapkan. Sejauh ini, media-media AS belum menyebutkan alasan pengunduran diri Gabbard sebagai Direktur Intelijen Nasional.

Namun sebelum ini, saat mempresentasikan laporan penilaian ancaman tahunan, Gabbard memberikan interpretasi mengenai program nuklir Iran; interpretasi yang bertentangan dengan klaim Trump bahwa program tersebut merupakan “ancaman yang mendesak”.

Pada sesi tersebut, ia mengatakan bahwa penilaian komunitas intelijen AS menunjukkan Iran tidak melakukan upaya apa pun untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya sejak Perang 12 Hari.

Penilaian intelijen ini bertentangan dengan justifikasi Trump untuk memulai perang melawan Iran, karena Pemerintahannya mengeklaim bahwa mereka memulai perang untuk mengatasi “ancaman mendesak” dari Iran terkait program nuklirnya.

Selain itu, dalam laporan yang diterbitkan selama perang tersebut, Gabbard mencerminkan pandangan komunitas intelijen AS, dengan menyatakan bahwa fondasi Pemerintahan Iran stabil.

Pada 10 April silam, situs berita Axios melaporkan bahwa Trump telah mempertimbangkan untuk memecat Gabbard karena pernyataan-pernyataan tersebut.

Berdasarkan kutipan Axios dari sumber-sumber yang mengetahui masalah ini, Trump sangat tidak puas dengan apa yang ia anggap sebagai “kurangnya dukungan tegas dari Gabard terhadap perang dengan Iran”. Trump bahkan mempertanyakan kesetiaannya.

Namun, salah satu teman dan Penasihat terlama Trump, Roger Stone, secara pribadi turun tangan dan mendesaknya untuk tidak memecat Gabbard. Stone berargumen bahwa Gabbard setia, tidak pantas dipecat, dan bahwa pemecatannya dapat menimbulkan liputan media yang negatif, yang bakal menjadikannya sebagai saingan politik potensial.

Beberapa pejabat Kabinet AS juga membela Gabbard. Pada akhirnya, intervensi Stone berhasil menyelamatkan posisinya.

Trump telah dikritik dalam beberapa tahun terakhir karena mencoba memaksa Badan-badan Intelijen untuk membuat laporan yang mendukung pandangannya.

Meskipun demikian, Presiden AS itu mencuit di Truth Social bahwa Tulsi Gabbard telah mengundurkan diri sebagai Direktur Intelijen Nasional AS karena “suaminya menderita kanker tulang yang langka”.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *