Houthi Tegaskan Yaman Pantang Tunduk pada Kendali Asing
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, menegaskan rakyat Yaman tidak akan pernah menerima dominasi maupun pengawasan asing atas negara mereka. Dalam pidato terbarunya, al-Houthi menyebut Amerika Serikat, Arab Saudi, Inggris, dan Israel selama ini berupaya menundukkan Yaman secara politik dan ekonomi.
Dalam pernyataan yang dikutip Fars News Agency pada Jumat malam 22 Mei, al-Houthi mengatakan Washington dan Riyadh sejak awal ingin menjadikan rakyat Yaman tunduk pada kepentingan mereka. Namun, upaya itu disebut gagal menghadapi keteguhan masyarakat Yaman.
Al-Houthi juga memperingatkan bahwa rakyat Yaman tidak akan menerima pengawasan “Komite Kuadrilateral” yang terdiri atas Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan Arab Saudi.
“Bangsa Yaman tidak akan pernah menerima perwalian asing dan tidak ingin masa depannya dikaitkan dengan kekuatan luar,” kata al-Houthi.
Pemimpin Ansharullah itu menyoroti intervensi ekonomi Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap Yaman, terutama di sektor energi dan sumber daya alam.
Menurut al-Houthi, Arab Saudi selama beberapa dekade menghalangi eksplorasi cadangan minyak dalam jumlah besar di Provinsi Al-Jawf karena tidak ingin Yaman berkembang menjadi negara yang hidup mandiri dan bermartabat.
Riyadh juga disebut menekan perusahaan-perusahaan asing agar meninggalkan Provinsi Al-Mahrah dan menghentikan proyek pengeboran minyak. Langkah serupa, menurut al-Houthi, juga terjadi di Hadramaut.
“Arab Saudi tidak ingin Yaman memiliki sumber daya ekonomi yang membuat negara ini bebas dari ketergantungan terhadap pihak lain,” ujarnya.
Al-Houthi menilai Arab Saudi sejak awal berdirinya bergantung pada Inggris, kemudian kepada Amerika Serikat dan Inggris. Sementara rakyat Yaman, menurutnya, terus kehilangan akses terhadap kekayaan minyak dan sumber daya nasional sejak perang berlangsung hingga sekarang.
Selain isu energi, pidato tersebut juga menyinggung dugaan praktik perusahaan-perusahaan Amerika dan Israel di sektor pangan dan kesehatan.
Al-Houthi lantang menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Barat memasukkan zat berbahaya ke dalam produk makanan dan obat-obatan yang dipasarkan ke berbagai negara.
“Perusahaan-perusahaan Zionis dan Amerika memasukkan racun mematikan ke dalam produk pangan dan obat-obatan, lalu kita membelinya dengan uang kita sendiri dan memberi mereka keuntungan besar,” katanya.
Menurut al-Houthi, sejumlah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan perusahaan-perusahaan besar Barat menggunakan bahan yang membahayakan kesehatan masyarakat dan berkontribusi terhadap penyebaran berbagai penyakit mematikan.
Dalam bagian lain pidatonya, al-Houthi juga menegaskan Amerika Serikat pernah mengirim bantuan gandum yang terpapar radiasi nuklir dan menyebabkan penyakit kanker.
Pidato tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional dan berlanjutnya konflik berkepanjangan di Yaman yang melibatkan berbagai kekuatan regional maupun internasional.
