Bloomberg: UEA Melunak dan Mulai Menjauh dari Agenda Perang terhadap Iran
POROS PERLAWANAN — Uni Emirat Arab (UEA) mulai mengubah pendekatannya terhadap Iran dan kini lebih aktif mendorong jalur diplomasi guna mencegah pecahnya kembali perang di kawasan Teluk.
Laporan Bloomberg yang mengutip sejumlah sumber menyebut Abu Dhabi dalam beberapa hari terakhir melakukan koordinasi intensif dengan Arab Saudi dan Qatar untuk mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberi ruang lebih besar bagi proses negosiasi dengan Teheran.
Menurut analisis yang diterbitkan Fars News Agency pada Jumat 22 Mei, kekhawatiran utama negara-negara Teluk adalah kemungkinan serangan balasan Iran jika perang kembali pecah. Skenario itu dipandang dapat mengguncang stabilitas ekonomi Kawasan dan memicu kekacauan luas di negara-negara Teluk.
Para pemimpin UEA, Arab Saudi, dan Qatar disebut telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa opsi militer tidak akan membawa Washington pada tujuan strategisnya terhadap Iran.
Gedung Putih hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.
Bloomberg menilai perubahan sikap Abu Dhabi cukup mencolok. Selama ini, UEA dikenal sebagai negara Teluk yang paling keras terhadap Teheran sekaligus paling terdampak oleh serangan Iran.
Meski memiliki perbedaan pandangan mengenai bentuk kesepakatan diplomatik dan tingkat tekanan terhadap Iran, ketiga negara Teluk itu sama-sama tidak ingin kembali menghadapi situasi seperti akhir Februari hingga awal April lalu, saat perang gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengguncang Kawasan.
Sebelumnya, Abu Dhabi dilaporkan kecewa terhadap Arab Saudi dan sejumlah negara Arab lain karena tidak memberikan respons militer kolektif yang cukup kuat terhadap Iran.
Pada periode tersebut, UEA melakukan serangan terbatas ke Iran dalam koordinasi dengan Amerika Serikat dan Israel, sementara Arab Saudi bergerak melalui jalur terpisah.
Perbedaan posisi itu bahkan sempat memicu ketegangan internal di antara negara-negara Teluk hingga UEA secara mengejutkan keluar dari OPEC pada akhir April lalu.
Belakangan, hubungan antarnegara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC mulai membaik. Dalam pernyataan kepada Bloomberg pada 21 Mei, Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan Abu Dhabi terus melakukan koordinasi erat dengan negara-negara GCC dan para mitra regional maupun internasional.
Bloomberg juga menyoroti posisi Donald Trump yang dinilai semakin sulit. Meski Amerika Serikat dan Israel disebut berhasil menghantam struktur Militer Iran dan menewaskan sejumlah tokoh penting selama perang, Teheran dan sekutunya masih memiliki kapasitas serangan yang besar.
Iran dan Amerika Serikat diketahui menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April. Komunikasi kedua pihak kini berlangsung melalui Pakistan.
Di tengah ancaman perang baru, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio mengakui adanya “kemajuan kecil” dalam proses negosiasi.
Trump sebelumnya memasuki konflik dengan target menghancurkan program rudal balistik Iran bahkan mendorong perubahan rezim di Teheran. Akan tetapi, perang tersebut telah menghabiskan puluhan miliar Dolar dan mulai memicu tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat.
Penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga energi juga membuat perang semakin tidak populer di mata publik Amerika. Situasi itu membuat Trump berkali-kali bergeser antara ancaman serangan besar dan klaim mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai.
Di kubu Arab Teluk sendiri, strategi menghadapi Iran masih belum sepenuhnya seragam.
Arab Saudi mendukung mediasi Pakistan dan menilai pengendalian program nuklir serta rudal Iran hanya mungkin dicapai melalui dialog. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan bahkan menyebut Riyadh sangat menghargai keputusan Trump memberi kesempatan bagi jalur diplomasi.
Sementara itu, Arab Saudi dan UEA sama-sama mengusulkan agar fokus utama Washington diarahkan pada upaya memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. Keduanya juga mendukung keberlanjutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Qatar mengambil posisi lebih lunak. Doha terus mendukung mediasi Pakistan dan menyerukan penurunan eskalasi demi menjaga stabilitas kawasan Teluk.
