Israel Perluas Operasi Militer di Lebanon Selatan, Paksa Warga Mengungsi
POROS PERLAWANAN — Pasukan Israel memperluas operasi militer mereka di Lebanon selatan dengan bergerak lebih jauh ke wilayah utara Sungai Litani di tengah meningkatnya ketegangan meski gencatan senjata masih berlaku.
Menurut laporan Press TV pada Sabtu 30 Mei, pasukan Israel bergerak melewati kota Zawtar al-Sharqiyeh dan Mayfadoun hingga mencapai pinggiran Choukine. Warga kota tersebut sebelumnya telah diperintahkan mengungsi pada Jumat.
Operasi militer yang berlangsung selama beberapa hari terakhir disebut meningkat tajam dalam 48 jam terakhir.
Pasukan Israel juga bergerak ke arah utara di sepanjang jalur perbukitan strategis yang mengawasi Sungai Litani. Kawasan dataran tinggi itu berada sekitar 900 meter di atas permukaan laut dan menghadap langsung ke Kota Marjayoun serta jalur tenggara Nabatieh.
Di wilayah timur, pasukan Israel dilaporkan bergerak melewati utara Kota Dibbine yang dikenal sebagai salah satu basis kuat Gerakan Perlawanan Lebanon, Hizbullah.
Israel mengeklaim operasi tersebut bertujuan mendorong pasukan Hizbullah menjauh dari perbatasan dan mengurangi ancaman serangan lintas batas terhadap wilayah utara dan tengah Israel.
Israel Keluarkan Gelombang Baru Perintah Pengungsian
Militer Israel pada Jumat kembali mengeluarkan perintah pengungsian terhadap warga di enam desa Lebanon selatan, yakni Marwaniyah, Lubya, Midoun, Ansariyah, Zafta, dan Teffahta.
Juru Bicara Militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, melalui akun X miliknya memperingatkan warga agar segera meninggalkan rumah mereka dan bergerak ke wilayah utara Sungai Zahrani.
Ia mengeklaim keberadaan warga di dekat personel maupun fasilitas Hizbullah akan membahayakan keselamatan mereka.
Perintah tersebut menjadi gelombang ketiga pengungsian paksa yang diumumkan Israel dalam satu hari. Sebelumnya, peringatan serupa juga dikeluarkan bagi warga Jdeidet Ansar, Zrariyeh, Mazraat Kauthariyet el-Rez, Mashgharah, Mayfadoun, Choukine, dan Zebdine.
Ketegangan Lebanon-Israel Kian Membesar
Meski gencatan senjata di perbatasan Lebanon-Israel mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari, bentrokan di kawasan tersebut terus meningkat.
Pertukaran serangan antara Hizbullah dan pasukan Israel, disertai operasi darat dan perintah pengungsian berulang, memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di Lebanon selatan.
Sejak 2 Maret, Israel dilaporkan terus memperluas ofensif militernya di Lebanon. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 3.355 orang, melukai lebih dari 10.100 lainnya, dan memaksa lebih dari 1,6 juta warga mengungsi.
Situasi terbaru di Lebanon selatan memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejauh ini belum mampu menghentikan eskalasi militer di kawasan perbatasan.
