Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Jubir IRGC Tegaskan Kesiapan Hadapi Semua Skenario Militer

POROS PERLAWANAN — Juru Bicara dan Wakil Kepala Hubungan Masyarakat Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa Militer Iran telah menyiapkan diri untuk menghadapi seluruh kemungkinan eskalasi di masa mendatang. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tensi regional dan berlanjutnya perang narasi antara Iran dan musuh-musuhnya.

Brigadir Jenderal Hossein Mohseni, dalam kunjungannya ke kantor kantor berita Fars pada Selasa 2 Juni, mengatakan bahwa apabila pihak lawan kembali memilih jalur militer, maka bentuk operasi, wilayah pertempuran, hingga jenis persenjataan yang digunakan akan berbeda dari sebelumnya. Menurutnya, Garda Revolusi Islam telah memiliki kesiapan penuh untuk seluruh skenario yang mungkin terjadi.

Dalam pertemuan tersebut, Mohseni juga mengenang para korban perang yang disebutnya sebagai “perang paksa kedua dan ketiga”, termasuk Pemimpin Revolusi yang gugur. Ia sekaligus menyampaikan apresiasi terhadap media-media Iran yang dinilai aktif dalam “jihad penjelasan” dan perang informasi.

Ia menegaskan bahwa media kini tidak lagi dapat dipandang sebagai instrumen tambahan dalam konflik modern. Menurutnya, media telah menjadi bagian utama dari perangkat perang, sejajar dengan rudal, drone, dan kekuatan militer lainnya.

“Sebagaimana peluncuran rudal dianggap penting, maka narasi tentang operasi itu juga harus dipandang sama pentingnya,” ujarnya.

Mohseni menyebut kemenangan Iran dalam perang terakhir tidak hanya ditentukan kekuatan militer, tetapi juga persatuan sosial dan kemampuan mengendalikan narasi publik. Karena itu, ia meminta media Iran menyampaikan informasi secara cepat, akurat, dan berbasis fakta agar tidak memberi ruang bagi “distorsi narasi” dari pihak lawan.

Dalam aspek militer, ia mengeklaim kesiapan Angkatan Bersenjata Iran saat ini lebih tinggi dibandingkan masa sebelumnya. Pengalaman menghadapi musuh secara langsung, menurut dia, telah memperkuat pemahaman Iran terhadap pola operasi, teknologi, dan taktik tempur lawan.

Mohseni juga membantah pernyataan Amerika Serikat mengenai melemahnya kemampuan militer Iran. Ia mengatakan kapasitas tempur Iran tidak mengalami penurunan, termasuk dalam operasi laut dan penguasaan strategis di Selat Hormuz.

Menurutnya, kegagalan Amerika Serikat mengubah kendali atas Selat Hormuz menjadi bukti bahwa kekuatan operasional Iran tetap terjaga meski menghadapi tekanan besar di darat, laut, maupun udara.

Ia menambahkan bahwa periode gencatan senjata justru dimanfaatkan Iran untuk memperkuat kesiapan militer, memperbaiki kerusakan, dan meningkatkan kapasitas tempur di berbagai sektor. Penguatan itu, kata dia, mencakup kemampuan ofensif, pertahanan udara, pengalaman komando, hingga pengetahuan lapangan hasil pertempuran langsung.

Mohseni menyebut salah satu hasil paling penting dari perang terakhir adalah meningkatnya pengetahuan operasional Iran terhadap kekuatan lawan. Jika sebelumnya informasi diperoleh melalui laporan intelijen dan media, kini pengalaman itu disebut telah berubah menjadi pemahaman tempur yang bersifat langsung dan praktis.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa medan militer tetap menjadi fokus utama Iran karena dianggap sebagai instrumen utama yang digunakan musuh untuk mencapai tujuannya. Oleh sebab itu, kesiapan militer akan dipertahankan pada tingkat tertinggi dalam menghadapi kemungkinan perkembangan baru di Kawasan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *